LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menerima kunjungan Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid. Dalam pertemuan yang berlangsung di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta dilakukan pembahasan rencana revitalisasi rumah bersejarah Wahid Hasyim di kawasan Matraman, Jakarta.
Pengajuan revitalisasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian cagar budaya dan penguatan pemanfaatan ruang sejarah untuk kepentingan edukasi publik. Revitalisasi diarahkan tidak hanya pada penataan fisik bangunan, tetapi juga pada penguatan narasi sejarah, koleksi artefak, serta penyajian ruang pamer yang mampu menggambarkan perjalanan tokoh penting dalam sejarah bangsa.
Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa rumah Wahid Hasyim yang kini dimanfaatkan sebagai Wahid Foundation merupakan bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah penting. Oleh karena itu, pengembangannya perlu memperhatikan prinsip-prinsip pelestarian cagar budaya dengan tetap mempertahankan keaslian bangunan.
Dalam diskusi juga disampaikan potensi kawasan Matraman sebagai kawasan bersejarah yang memiliki keterkaitan dengan sejumlah tokoh nasional dan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Selain kediaman Wahid Hasyim, di kawasan tersebut juga terdapat rumah keluarga Margono Djojohadikusumo yang disebut pernah menjadi lokasi awal pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Menbud Fadli Zon menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan siap memberikan dukungan dalam penyusunan konsep kuratorial, penguatan
storyline, penataan ruang pamer, serta pengembangan narasi sejarah yang lebih utuh mengenai Wahid Hasyim dan Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Selanjutnya Menteri Fadli Zon menyampaikan bahwa keberadaan berbagai situs bersejarah dalam satu kawasan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai satu kesatuan narasi sejarah yang saling terhubung. Pendekatan kawasan tersebut diharapkan dapat memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus menghadirkan pengalaman belajar sejarah yang lebih komprehensif bagi masyarakat.
“Hal yang penting jangan hanya renovasi fisik, isi dan narasinya juga harus kuat. Karena museum itu bukan hanya soal bangunan, tetapi juga bagaimana orang memahami sejarahnya. Kalau narasinya kuat, orang akan datang bukan hanya untuk melihat rumahnya, tetapi juga memahami perjalanan tokoh-tokohnya,” jelas Menbud dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).
Dalam pertemuan tersebut turut dibahas penguatan Museum Islam Indonesia Hasyim Asy'ari di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Narasi mengenai perjalanan Kiai Hasyim Asy'ari, sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama, Resolusi Jihad, perkembangan organisasi Nahdlatul Ulama hingga masa Abdurrahman Wahid (Gus Dur) perlu disempurnakan, agar alur perkembangannya terlihat jelas.
Turut hadir pada pertemuan tersebut, yakni Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis; serta Direktur Film, Musik, dan Seni, Irini Dewi Wanti.
Upaya revitalisasi rumah bersejarah, pengembangan kawasan cagar budaya, serta penguatan museum merupakan bagian dari komitmen Kementerian Kebudayaan dalam mendorong pemajuan kebudayaan melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan objek pemajuan kebudayaan. Melalui pendekatan tersebut, situs-situs bersejarah diharapkan tidak hanya terpelihara sebagai bangunan warisan, tetapi juga menjadi ruang belajar, ruang refleksi, dan pusat penguatan memori kolektif bangsa bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.
(lam)