Waspada Lemak Berlebih, Bisa Memperburuk Gejala Covid-19
Ajeng ritzki
Rabu, 18 Agustus 2021 - 16:45 WIB
Jenis makanan berkalori tinggi miniim nutrisi pemicu penambahan lemak tubuh Foto: Langit7.id/Istock
Keberadaan lemak dalam tubuh terutama lemak jenuh yang berlebih bisa memperparah gejala COVID-19 yang dialami pasien. Pernyataan itu diungkap dokter spesialis gizi klinik dari PPSI Ilmu Gizi Klinik Universitas Indonesia, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK.
"Konsumsi banyak lemak terutama lemak jenuh akan bisa menyebabkan kondisi peradangan lebih berat. Mungkin keluhannya ringan tetapi karena pola makan salah, akhirnya menjadi lebih berat gejalanya," ujarnya dalam webinar bertajuk "Bahaya Salah Asupan Saat Pandemi dan Isoman", Rabu (18/8/2021)
Juwalita mengatakan, asupan tinggi lemak mempengaruhi reseptor tempat melekatnya virus SARS-CoV-2 atau ACE-2 sehingga membuatnya lebih mudah dimasuki virus.
Lebih lanjut, ia memaparkan salah satu jenis lemak, yakni yang bersifat jenuh bisa meningkatkan pengeluaran mediator disebut juga inflamasi atau peradangan pada sel imun. Bila inflamasi terjadi semakin berat maka ini akan memperparah gejala COVID-19 pasien.
Di sisi lain, diet tinggi lemak juga mempengaruhi kondisi bakteri baik dalam usus, memicu terjadinya peradangan menyeluruh yang akhirnya menurunkan sistem imun tubuh.
"Mikrobiota di dalam tubuh ini punya manfaat luar biasa, tidak hanya menjaga kesehatan saluran cerna juga berdampak pada sistem imunitas tubuh karena membantu mengaktivitasi sel-sel imun tubuh, meskipun kelihatannya hanya di usus," tutur Juwalita.
Lemak sendiri termasuk salah satu komponen yang perlu dibatasi bila ingin mendapatkan kondisi tubuh sehat termasuk respon imun yang baik. Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi lemak 20-25 persen dari total energi (702 kkal) atau setara dengan 5 sendok makan per orang per hari (67 gram).
"Konsumsi banyak lemak terutama lemak jenuh akan bisa menyebabkan kondisi peradangan lebih berat. Mungkin keluhannya ringan tetapi karena pola makan salah, akhirnya menjadi lebih berat gejalanya," ujarnya dalam webinar bertajuk "Bahaya Salah Asupan Saat Pandemi dan Isoman", Rabu (18/8/2021)
Juwalita mengatakan, asupan tinggi lemak mempengaruhi reseptor tempat melekatnya virus SARS-CoV-2 atau ACE-2 sehingga membuatnya lebih mudah dimasuki virus.
Lebih lanjut, ia memaparkan salah satu jenis lemak, yakni yang bersifat jenuh bisa meningkatkan pengeluaran mediator disebut juga inflamasi atau peradangan pada sel imun. Bila inflamasi terjadi semakin berat maka ini akan memperparah gejala COVID-19 pasien.
Di sisi lain, diet tinggi lemak juga mempengaruhi kondisi bakteri baik dalam usus, memicu terjadinya peradangan menyeluruh yang akhirnya menurunkan sistem imun tubuh.
"Mikrobiota di dalam tubuh ini punya manfaat luar biasa, tidak hanya menjaga kesehatan saluran cerna juga berdampak pada sistem imunitas tubuh karena membantu mengaktivitasi sel-sel imun tubuh, meskipun kelihatannya hanya di usus," tutur Juwalita.
Lemak sendiri termasuk salah satu komponen yang perlu dibatasi bila ingin mendapatkan kondisi tubuh sehat termasuk respon imun yang baik. Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi lemak 20-25 persen dari total energi (702 kkal) atau setara dengan 5 sendok makan per orang per hari (67 gram).