Dubes RI untuk Qatar: Piala Dunia 2022 Perlihatkan Wajah Islam Sebagai Rahmatan Lil-alamin
Muhajirin
Kamis, 01 Desember 2022 - 07:33 WIB
Masjid Desa Budaya Katara di Doha, Qatar menjadi tempat para penggemar sepak bola Piala Dunia belajar Islam. (Foto: Langit7/iStock.)
Dubes RI untuk Qatar, HE Ridwan Hassan, menjelaskan, Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 berhasil memperlihatkan wajah Islam sebagai rahmatan lil-alamin. Piala Dunia Qatar mampu memperlihatkan bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kedamaian.
Qatar menghadirkan wajah Islam sebagai agama damai merupakan upaya melawan opini yang menyebut Islam sebagai agama kekerasan. Menurut Ridwan, masyarakat dunia melihat Islam dari sebagai agama keras hanya karena mereka tidak kenal. Maka itu, Qatar memperkenalkan Islam dengan cara unik.
“Persentuhan Islam dengan komunitas lain, atau Islam dengan dunia bukan satu hal yang baru. Saya selalu percaya, ada ungkapan ‘tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta’. Kenapa ada ketidaksukaan, ketidakpahaman, karena tidak ada interaksi,” kata Ridwan dalam webinar di Gelora TV, Rabu sore (30/11/2022).
Baca juga:Masjid Katara Dakwahkan Islam ke Ribuan Pengunjung Piala Dunia 2022
Masyarakat Qatar memang terkenal sebagai masyarakat terbuka. Mereka tidak anti warga asing, apapun latar belakang budaya hingga keyakinannya. Semua diterima sebagaimana ajaran Islam tentang memuliakan tamu.
Interaksi Qatar dengan masyarakat asing, terkhusus nonmuslim, sudah terjalin kurang lebih 50 tahun. Rentetan waktu panjang itu menciptakan kesepemahaman. Muslim Qatar tidak melihat warga asing sebagai musuh, warga nonmuslim pun tidak melihat muslim Qatar sebagai penganut ajaran kekerasan.
“Bahwa dalam masa itu, ada pemahaman yang meningkat, kemudian di era Piala Dunia jumlah orang lebih banyak lagi, itu adalah hasil dari proses yang panjang. Orang tidak bisa juga seperti main sulap, lihat langsung masuk,” ujar Ridwan.
Qatar menghadirkan wajah Islam sebagai agama damai merupakan upaya melawan opini yang menyebut Islam sebagai agama kekerasan. Menurut Ridwan, masyarakat dunia melihat Islam dari sebagai agama keras hanya karena mereka tidak kenal. Maka itu, Qatar memperkenalkan Islam dengan cara unik.
“Persentuhan Islam dengan komunitas lain, atau Islam dengan dunia bukan satu hal yang baru. Saya selalu percaya, ada ungkapan ‘tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta’. Kenapa ada ketidaksukaan, ketidakpahaman, karena tidak ada interaksi,” kata Ridwan dalam webinar di Gelora TV, Rabu sore (30/11/2022).
Baca juga:Masjid Katara Dakwahkan Islam ke Ribuan Pengunjung Piala Dunia 2022
Masyarakat Qatar memang terkenal sebagai masyarakat terbuka. Mereka tidak anti warga asing, apapun latar belakang budaya hingga keyakinannya. Semua diterima sebagaimana ajaran Islam tentang memuliakan tamu.
Interaksi Qatar dengan masyarakat asing, terkhusus nonmuslim, sudah terjalin kurang lebih 50 tahun. Rentetan waktu panjang itu menciptakan kesepemahaman. Muslim Qatar tidak melihat warga asing sebagai musuh, warga nonmuslim pun tidak melihat muslim Qatar sebagai penganut ajaran kekerasan.
“Bahwa dalam masa itu, ada pemahaman yang meningkat, kemudian di era Piala Dunia jumlah orang lebih banyak lagi, itu adalah hasil dari proses yang panjang. Orang tidak bisa juga seperti main sulap, lihat langsung masuk,” ujar Ridwan.