Harga Bapok Meroket, Legislator: Operasi Pasar seperti Pemadam Kebakaran
Garry Talentedo Kesawa
Jum'at, 13 Januari 2023 - 21:35 WIB
Ilustrasi pedagang sembako di sebuah pasar tradisional. (Foto: Langit7.id/iStock)
Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo menyoroti meroketnya sejumlah harga kebutuhan bahan pokok (bapok) di awal tahun 2023. Firman mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan harga-harga bapok pangan mengalami kenaikan.
Pertama, produksi pertanian dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan secara nasional. Kemudian juga biaya produksi pertanian relatif masih tinggi karena petani masih bekerja secara konvensional.
"Kedua, produksi pangan akhir-akhir ini mengalami penurunan akibat adanya anomali cuaca dan bencana dimana-mana. Otomatis ini akan berdampak kepada produksi petani nasional akhirnya menurun semisalnya akibat bencana banjir yang berdampak gagal panen itu makin banyak. Ini yang harus diantisipasi pemerintah," kata Firman dalam keterangannya, Jumat (13/1/2023).
Baca Juga:4 Langkah Teknis Antisipasi Krisis Pangan
Politikus Partai Golkar ini selalu mengingatkan kepada pemerintah, bahwa kebutuhan pokok merupakan suatu yang fundamental. Sehingga tidak boleh terjadi kelangkaan dan tidak boleh terjadi kekurangan karena pangan sebagaimana amanat konstitusi.
Terkait operasi pasar, Firman menilai hal tersebut sifatnya hanya seperti pemadam kebakaran, hanya mengatasi sesaat. Menurutnya, harus ada strategi yang dilakukan secara kesinambungan oleh pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Bappenas.
"Bagaimana mengatasi hal-hal seperti ini banjir karena apa? Di satu sisi, hutan di daerah juga gundul mungkin juga ada faktor-faktor lain karena banyak program-program pembangunan di daerah tidak memperhatikan masalah lingkungan. Misalnya di DKI Jakarta atau di Jawa Tengah yang akhir-akhir ini dilanda banjir terus menerus," ujar Firman.
Pertama, produksi pertanian dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan secara nasional. Kemudian juga biaya produksi pertanian relatif masih tinggi karena petani masih bekerja secara konvensional.
"Kedua, produksi pangan akhir-akhir ini mengalami penurunan akibat adanya anomali cuaca dan bencana dimana-mana. Otomatis ini akan berdampak kepada produksi petani nasional akhirnya menurun semisalnya akibat bencana banjir yang berdampak gagal panen itu makin banyak. Ini yang harus diantisipasi pemerintah," kata Firman dalam keterangannya, Jumat (13/1/2023).
Baca Juga:4 Langkah Teknis Antisipasi Krisis Pangan
Politikus Partai Golkar ini selalu mengingatkan kepada pemerintah, bahwa kebutuhan pokok merupakan suatu yang fundamental. Sehingga tidak boleh terjadi kelangkaan dan tidak boleh terjadi kekurangan karena pangan sebagaimana amanat konstitusi.
Terkait operasi pasar, Firman menilai hal tersebut sifatnya hanya seperti pemadam kebakaran, hanya mengatasi sesaat. Menurutnya, harus ada strategi yang dilakukan secara kesinambungan oleh pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Bappenas.
"Bagaimana mengatasi hal-hal seperti ini banjir karena apa? Di satu sisi, hutan di daerah juga gundul mungkin juga ada faktor-faktor lain karena banyak program-program pembangunan di daerah tidak memperhatikan masalah lingkungan. Misalnya di DKI Jakarta atau di Jawa Tengah yang akhir-akhir ini dilanda banjir terus menerus," ujar Firman.