Kisah Remaja Soedirman, Siswa Pendiam Pandai Pidato
Muhajirin
Selasa, 24 Agustus 2021 - 10:06 WIB
Profil sosok Jenderal Soedirman. Foto: Istimewa
Nama Jenderal Soedirman tak asing di telinga masyarakat Indonesia. Dia Pahlawan Nasional Indonesia yang dalam sejarah perjuangan merupakan panglima dan jenderal RI pertama dan termuda.
Soedirman menjadi jenderal di usia 31 tahun. Dia dikenal pejuang yang gigih. Penyakit paru-paru parah tak menghalangi beliau berjuang dan bergerilya bersama para prajuritnya melawan Belanda pada Agresi Militer II.
Baca Juga:Mengenang 52 Tahun Pembakaran Masjid Al-Aqsa, Titik Awal Yahudisasi
Soedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916. Ia berasal dari keluarga sederhana. Sang ayah, Karsid Kartawiraji, adalah seorang pekerja di pabrik gula Kalibagor Banyumas. Sementara sang ibu, Siyem, merupakan keturunan Wedana Rembang.
Sejak kecil, Soedirman diasuh oleh pamannya yang bernama oleh R. Tjokrosoenarjo, karena ia memiliki kondisi keuangan yang jauh lebih baik dibanding orang tua beliau. Berkat sang paman, beliau bisa sekolah layaknya anak negeri di zaman Belanda. Setelah diadopsi oleh sang paman, ia turut diberi gelar kebangsawanan suku Jawa menjadi Raden Soedirman.
Soedirman tumbuh besar dengan cerita-cerita kepahlawanan yang disampaikan kepadanya, serta diajarkan etika dan tata krama priyayi serta kesederhanaan sebagai rakyat biasa. Berkat didikan tersebut, Soedirman tumbuh menjadi anak yang rajin dan aktif di sekolahnya.
“Beliau bisa sekolah di HS Gobernemen. Jiwa nasionalisme Soedirman itu sudah tumbuh sejak kecil. Pada waktu naik kelas 6, dulu sekolah itu 7 tahun, beliau sudah ingin keluar dari HS Gobernemen, ingin pindah ke tempat. Tapi ibu angkat beliau, tidak mengizinkan,” tutur Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Sardiman, dalam webinar virtual melalui aplikasi Zoom, Senin malam (23/8/2021).
Soedirman menjadi jenderal di usia 31 tahun. Dia dikenal pejuang yang gigih. Penyakit paru-paru parah tak menghalangi beliau berjuang dan bergerilya bersama para prajuritnya melawan Belanda pada Agresi Militer II.
Baca Juga:Mengenang 52 Tahun Pembakaran Masjid Al-Aqsa, Titik Awal Yahudisasi
Soedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916. Ia berasal dari keluarga sederhana. Sang ayah, Karsid Kartawiraji, adalah seorang pekerja di pabrik gula Kalibagor Banyumas. Sementara sang ibu, Siyem, merupakan keturunan Wedana Rembang.
Sejak kecil, Soedirman diasuh oleh pamannya yang bernama oleh R. Tjokrosoenarjo, karena ia memiliki kondisi keuangan yang jauh lebih baik dibanding orang tua beliau. Berkat sang paman, beliau bisa sekolah layaknya anak negeri di zaman Belanda. Setelah diadopsi oleh sang paman, ia turut diberi gelar kebangsawanan suku Jawa menjadi Raden Soedirman.
Soedirman tumbuh besar dengan cerita-cerita kepahlawanan yang disampaikan kepadanya, serta diajarkan etika dan tata krama priyayi serta kesederhanaan sebagai rakyat biasa. Berkat didikan tersebut, Soedirman tumbuh menjadi anak yang rajin dan aktif di sekolahnya.
“Beliau bisa sekolah di HS Gobernemen. Jiwa nasionalisme Soedirman itu sudah tumbuh sejak kecil. Pada waktu naik kelas 6, dulu sekolah itu 7 tahun, beliau sudah ingin keluar dari HS Gobernemen, ingin pindah ke tempat. Tapi ibu angkat beliau, tidak mengizinkan,” tutur Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Sardiman, dalam webinar virtual melalui aplikasi Zoom, Senin malam (23/8/2021).