LANGIT7.ID, Jakarta - Nama Jenderal Soedirman tak asing di telinga masyarakat Indonesia. Dia Pahlawan Nasional Indonesia yang dalam sejarah perjuangan merupakan panglima dan jenderal RI pertama dan termuda.
Soedirman menjadi jenderal di usia 31 tahun. Dia dikenal pejuang yang gigih. Penyakit paru-paru parah tak menghalangi beliau berjuang dan bergerilya bersama para prajuritnya melawan Belanda pada Agresi Militer II.
Baca Juga: Mengenang 52 Tahun Pembakaran Masjid Al-Aqsa, Titik Awal YahudisasiSoedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916. Ia berasal dari keluarga sederhana. Sang ayah, Karsid Kartawiraji, adalah seorang pekerja di pabrik gula Kalibagor Banyumas. Sementara sang ibu, Siyem, merupakan keturunan Wedana Rembang.
Sejak kecil, Soedirman diasuh oleh pamannya yang bernama oleh R. Tjokrosoenarjo, karena ia memiliki kondisi keuangan yang jauh lebih baik dibanding orang tua beliau. Berkat sang paman, beliau bisa sekolah layaknya anak negeri di zaman Belanda. Setelah diadopsi oleh sang paman, ia turut diberi gelar kebangsawanan suku Jawa menjadi Raden Soedirman.
Soedirman tumbuh besar dengan cerita-cerita kepahlawanan yang disampaikan kepadanya, serta diajarkan etika dan tata krama priyayi serta kesederhanaan sebagai rakyat biasa. Berkat didikan tersebut, Soedirman tumbuh menjadi anak yang rajin dan aktif di sekolahnya.
“Beliau bisa sekolah di HS Gobernemen. Jiwa nasionalisme Soedirman itu sudah tumbuh sejak kecil. Pada waktu naik kelas 6, dulu sekolah itu 7 tahun, beliau sudah ingin keluar dari HS Gobernemen, ingin pindah ke tempat. Tapi ibu angkat beliau, tidak mengizinkan,” tutur Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Sardiman, dalam webinar virtual melalui aplikasi Zoom, Senin malam (23/8/2021).
Baca Juga: Meski Banyak Kekurangan di Indonesia, Kita Harus Mensyukuri Nikmat KemerdekaanNamun pada tahun ketujuh bersekolah, Soedirman diizinkan untuk pindah ke sekolah menengah milik Taman Siswa. Sekolah itu didirikan dua kakak beradik, Suandi dan Suondo. Namun pada tahun kedelapan, ia kembali dipindah sebab sekolah Taman Siswa ditutup oleh Ordonansi Sekolah Liar, sistem yang didirikan pemerintah Hindia Belanda, karena sekolah tersebut diketahui tidak terdaftar.
Di sekolah Soedirman banyak dikenal oleh guru-guru dan teman-temannya sebagai seorang murid serta teman yang tekun dan pintar. Pernah suatu saat di kampungnya ada orang meninggal, Soedirman tidak masuk sekolah.
Pada esok paginya ia ditanya oleh guru. Dia menjawab jujur. Alasan tak masuk sekolah karena ikut membantu tetangga mengurusi jenazah. Inisiatif ini yang membuat gurunya kagum tentang karakter sosial yang dimiliki oleh Soedirman.
Lalu, pernah suatu waktu, ketika duduk di kelas dua, Soedirman dipanggil kepala sekolah dan diceritakan perihal sekolah Taman Siswa yang ditutup karena terbentur aturan Belanda. Pertemuan ini yang membuat jiwa nasionalisme Soedirman kian memuncak.
Baca Juga: Hormat Bendera dan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya: Bentuk Syukur, Teladan Para Ulama“Kepala sekolah ini melihat bakat terpendam dari Pak Dirman. Saat dipanggil itu, Dirman kecil ditanya soal isi suatu buku. Dirman lalu menjelaskan bahwa dalam buku itu terdapat gambar orang Belanda, kemudian di belakangnya ada bangsawan Indonesia, di sana ada gambar orang mencuri tapi ditulisi orang Indonesia, di sana gambar rumah Belanda dan di depannya ada mengemis yang ditulis orang Indonesia,” kata Dr. Sardiman.
Fakta Taman Siswa ditutup, Soedirman lalu pindah ke Wirotomo. Di sekolah itu ia pernah tercatat sebagai guru praktik di Wirotomo dan menjadi anggota Perkumpulan Siswa Wirotomo, klub drama, dan kelompok musik. Bahkan Soedirman juga turut membantu mendirikan cabang Hizboel Wathan, sebuah organisasi Kepanduan Putra milih Muhammadiyah.
Setelah lulus dari Wirotomo, Soedirman melanjutkan pendidikannya selama satu tahun di Kweekschool (sekolah guru) yang dioperasikan Muhammadiyah di Surakarta, namun berhenti karena masalah biaya. Pada 1936, Soedirman kembali ke Cilacap untuk mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah, setelah sebelumnya dilatih oleh guru-gurunya di Wirotomo.
Baca Juga: Jubir Covid-19 Gedung Putih Ungkap Fakta Terbaru PfizerSeodirman bahkan diangkat sebagai kepala di sekolah tersebut. Ia termasuk guru yang sangat professional. Ia mampu mengarang sendiri materi yang akan diajarkan. Dia juga selalu menyelipkan makna-makna tertentu atau hikmah saat mengajar, misalnya menyelipkan semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghormati orang tua.
Pada 1963, Soedirman menikah dengan seorang perempuan bernama Alfiah dan dikaruniai tiga orang putra dan empat orang putri Mereka adalah Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, dan Taufik Efendi, serta keempat putrinya adalah Didi Praptiastuti, Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, dan Titi Wahjuti Satyaningrum.
Soedirman RemajaKetika beranjak dewasa, Soedirman menjelma sebagai seorang pemuda yang berpikiran matang dan dewasa, percaya diri, disiplin, kerja keras, memberi contoh, dan gotong royong. Beliau dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara, tapi saat berpidato memukau.
“Ini salah satu kelebihan Pak Dirman yang menjadi digandrungi gadis-gadis waktu di Cilacap,” kata Dr. Sardiman.
Soedirman memiliki pengalaman unik. Suatu waktu Soekarno berkunjung ke Cilacap. Soedirman sangat bersemangat untuk mendengar pidato Bung Karno yang memang dikenal sebagai orator ulung. Namun, ia tidak diterima penjaga pintu. Sempat sedih namun tak kehilangan akal.
Baca Juga: Anak-Anak Punk Upacara HUT ke-76 RI, Ternyata Santri Tasawuf UndergroundIa pulang dan memakai teklek (kala itu teklek merupakan sandal bangsawan) lengkap dengan celana panjang. Melihat Soedirman berpenampilan bangsawan, penjaga pintu pun mengizinkan masuk. Dia sangat senang mendengar pidato Bung Karno.
“Saat muda, dia juga pernah mendirikan kesebelasan di Cilacap. Dia posisi bek yang sangat handal. Yang jelas, dia juga menjadi pemuda yang sangat teladan,” kata Dr. Sardiman.
Sebelum menjadi prajurit TNI, Soedirman adalah seorang pemimpin Pemuda Muhammadiyah dan kepanduan Hizbul Wathan di Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah pada 1993. Dia juga tercatat sebagai aktivis dan terpilih sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah (wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah Banyumas) pada 1936. Bahkan pada 1937 dia dipercaya Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah.
“Dari situ, Pak Dirman banyak mewakili muktamar Muhammadiyah. Pak Dirman mengusulkan agar HW memakai celana panjang, sehingga pada saat masuk waktu shalat tak perlu mencari sarung. Usulan ini diterima dalam Muktamar Muhammadiyah,” ucap Dr. Sardiman.
Baca Juga: Pemerintah Naikkan Batas Kapasitas Masjid Jadi 50 PersenTak hanya itu, kemampuan Soedriman berpidato membawanya sebagai seorang dai yang handal. Dia mayoritas menjadi mubaligh di masjid-masjid Muhammadiyah. Kala itu berkembang di tengah masyarakat bahwa Muhammadiyah menganut ajaran Islam keliru, sehingga dikucilkan dari warga Nahdliyin.
“Dia lalu aktif bersilaturahmi ke kiai-kiai Nahdlatul Ulama untuk meruntuhkan anggapa bahwa Muhammadiyah Islam yang keliru. Melalui dialog kepada kiai-kiai NU, masyarakat akhirnya tercerahkan bahwa Muhammadiyah tidak menganut Islam yang keliru. Bahkan ada semacam pembagian kamling dengan nahdliyin,” kata Dr. Sardiman.
Berkat kemampuan kepemimpinannya di Pemuda Muhammadiyah, Soedirman terpilih menjadi Komandan PETA daerah Banyumas. Kariernya terus menanjak hingga akhirnya terpilih menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (cikal bakal TNI) pada usia 29 tahun dalam musyawarah TKR di Yogyakarta pada 12 November 1945. Soedirman mengalahkan Oerip Soemohardjo, tokoh militer yang usianya jauh lebih senior.
Baca Juga:
Ragu Terpapar Covid-19, Tes Penciuman dengan 4 Bahan Aromatik
PPKM Level 3, Ini Aturan Sekolah Tatap Muka Terbatas di Jakarta(asf)