LANGIT7.ID, Jember - Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah (INAIFAS) Jember Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI menegaskan bahwa hormat kepada bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sama sekali bukan perbuatan syirik. Justru hal itu adalah bentuk syukur kepada Allah SWT.
"Tidak (syirik), keduanya adalah bagian dari rasa syukur kita semua atas anugerah kemerdekaan," tegas Gus Rijal saat diwawancarai Langit7.id, Selasa (17/8/2021).
Bahkan, kata Gus Rijal, Sayyid Idrus al-Jufri, pendiri organisasi al-Khairat yang berbasis di Palu, menyusun syair berbahasa Arab yang Indah dalam rangka mensyukuri kemerdekaan ini.
Antara Islam dan kebangsaan, kata Gus Rijal tak dapat dipisahkan dan telah diteladankan sejak dahulu oleh para ulama. Bahkan KH Hasyim Asy'ari disebut sebagai peletak batu pertama kemerdekaan Indonesia oleh Sayyid As'ad Syihab dalam buku berjudul
al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari: Awwalu Waadhi’i Labinaati Istiqlaal Induunisiyya (K.H. Hasyim Asy’ari: Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia).
Tak hanya itu, Gus Rijal menyebut nasionalisme juga sudah dicontohkan para ulama kita saat ini, dimana para ulama yang semakin sepuh usianya semakin sering menyampaikan pentingnya rasa cinta tanah air dalam berbagai ceramahnya.
"Silahkan lihat Mbah Kiai Maimoen Zubair, Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, dan sebagainya. Menjadi muslim yang baik, sekaligus menjadi warga negara yang baik. Tidak bisa dipisahkan. Inilah ajaran ulama-ulama kita," tutur Gus Rijal.
Bahkan ada cerita, tutur Gus Rijal, Kiai Malik Ilyas, Purwokerto, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah pernah mengajak Habib Lutfi bin Yahya, yang masih muda, dalam sebuah perjalanan.
Tiba-tiba, beliau minta kepada Pak Sayuti, sopirnya, untuk menghentikan kendaraan. Setelah itu, beliau menggelar tikar, sembari menunggu pukul 10.00 WIB. Habib Lutfi penasaran atas apa yang dilakukan oleh gurunya itu.
"Ternyata, tepat pukul 10.00 WIB, Kiai Malik mengajak Pak Sayuti dan Habib Lutfi berdoa untuk para syuhada, khususnya kepada arwah para pahlawan: dari Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasya Prawirodirjo, Kiai Mojo, Bung Karno, Bung Hatta dan para ulama-pahlawan lain difatehahi satu persatu," tuturnya.
Ternyata, saat itu tepat pada tanggal 17 Agustus. Pukul 10.00 diambil oleh Kiai Malik sebagai awal mula prosesi doa karena puluhan tahun silam Bung Karno-Bung Hatta, atas nama rakyat Indonesia, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
"Inilah peringatan Agustusan ala ulama Indonesia. Sederhana namun penuh makna. Keren sekali," pungkasnya.
(jqf)