LANGIT7.ID-, - Belakangan banyak ucapan
pejabat publik, baik menteri, kepala daerah,
anggota legislatif (DPR dan DPRD) atau pegawai negeri yang dinilai serampangan dan cenderung menyakiti hati rakyat.
Padahal, sejatinya
ucapan seorang pejabat negara itu menunjukkan integritas, akhlak, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga kepercayaan publik.
Baca juga: AA Gym: Menjaga Lisan, Kunci Utama Selamat dari Api NerakaPada akhir Agustus lalu, sejumlah anggota legislatif, seperti
Ahmad Sahroni, Nafa Urbach, Uya Kuya, hingga Eko Patrio dinonaktifkan sebagai anggota DPR.
Langkah tersebut dilakukan buntut pernyataan kontroversial dan tindakan mereka yang memicu perdebatan publik. Sahroni menyelipkan diksi "tolol" pada pernyataannya yang merespons kritik publik tentang pembubaran DPR.
“Mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia. Catat nih, orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia. Kenapa? Kita nih memang orang semua pintar semua? Enggak bodoh semua kita,” kata Sahroni saat kunjungan kerja di Polda Sumatera Utara, Jumat (22/8/2025).
Baru-baru ini, anggota DPRD Provinsi Gorontalo,
Wahyudin Moridu juga dipecat oleh DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) lantaran sesumbar dirinya menggunakan dan akan merampok uang negara.
"DPP PDI Perjuangan memutuskan memecat anggota DPRD Gorontalo, Wahyudin Moridu, atas tindakannya yang mencederai hati rakyat. DPP PDI Perjuangan juga menegaskan tidak akan menoleransi perbuatan tersebut," kata Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kehormatan, Komarudin Watubun, dalam keterangan resmi pada Sabtu (20/9/2025).
Menjaga lisan adalah salah satu bagian dari akhlak yang sangat ditekankan dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 11:
Baca juga: Akhlak Jaga Lisan, Berkata Baik atau Diam"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)."
Rasulullah SAW berulangkali mengingatkan umatnya untuk
menjaga lisan.
Nabi Muhammad SAW bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَسْكُتْ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ
Artinya: “Siapa saja yang beriman kepada Allah hendaklah bertutur kata yang baik atau diam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Begitu besarnya bahaya lisan atau ucapan, para ulama sering kali memilih diam untuk menjaga diri perkataan yang tidak bermanfaat atau menyakiti hati orang lain.
Dikutip dari NU Online,
Sayyidina Umar bin Khattab ra mempunyai cara sendiri untuk menjaga lisan yaitu dengan mengemut atau mengulum batu.
Hal tersebut dilakukan untuk mencegahnya dari ucapan atau perkataan yang tidak mendatangkan keuntungan dunia atau akhirat.
Sayyidina Umar dikenal sebagai sahabat yang berhati-hati dalam bertutur kata. Bahkan ia seringkali memikirkan ucapan sebelum berbicara.
Baca juga: Felix Siauw Jelaskan Definisi Muslim ke Daniel Mananta: Menjaga LisanBegitu juga dengan sahabat nabi,
Sayyidina Abu Bakar ra yang diriwayatkan mengemut batu untuk
menjaga lisan dari perkataan tidak berguna selama 12 tahun.
Bahkan, Abu Bakar ra tidak mengeluarkan batu dari mulutnya, kecuali saat shalat, makan dan tidur. Ia berdoa: ليتني كنت أخرس إلا عن ذكر الله.
Artinya, “Semoga diriku bisu kecuali dari dzikir kepada Allah.” (Muhammad bin Abdullah al-Jurdani, al-Jawahirul
Lu’luiyyah fi Syarhil Arba’in an-Nawawiyyah [Mansurah, Maktabah al-Iman], halaman 267-268).
Dalam kisah yang diriwayatkan Zayd ibn Aslam yang didapat dari ayahnya, di mana Abu Bakar hendak memotong lidahnya.
Dikisahkan Umar ibn al Khattab RA masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya ada Abu Bakar Ash Shiddiq RA sedang bersiap untuk memotong lidahnya.
Umar ibn al Khattab RA bertanya, "Ada apa? Semoga Allah mengampunimu!"
Abu Bakar menjawab: “Lisan inilah yang menjerumuskanku ke dalam kebinasaan”. (Az Zuhd, hlm. 90 karya Ahmad bin Hanbal).
(est)