Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Strategi Militer Taktis Ali bin Abi Thalib dalam Menundukkan Kabilah Yaman yang Congkak

miftah yusufpati Selasa, 26 Mei 2026 - 16:07 WIB
Strategi Militer Taktis Ali bin Abi Thalib dalam Menundukkan Kabilah Yaman yang Congkak
Mereka melancarkan serangan terbuka terhadap rombongan Madinah. Ilustrasi: Gemini AI
LANGIT7.ID-Fase penutupan dari dinamika politik dan militer di Jazirah Arab bagian selatan ditandai oleh sebuah benturan fisik yang menentukan. Ketika pendekatan persuasif mengalami jalan buntu di hadapan keangkuhan kesukuan, Madinah terpaksa mengirimkan instrumen militernya yang paling tepercaya.

Guna menghadapi kelompok masyarakat Yaman yang masih enggan tunduk dan menunjukkan kecongkakan komunal yang tinggi, Nabi Muhammad mengutus Ali bin Abi Thalib. Tugas utama yang dibebankan kepada Ali adalah melakukan demarkasi wilayah sekaligus mengajak mereka masuk ke dalam pangkuan Islam secara formal.

Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya ilmiah monumental yang ditulis oleh sejarawan terkemuka Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, fragmen pertempuran ini digambarkan dengan sangat lugas.

Pada mulanya, kabilah Yaman tersebut menyambut ajakan damai yang dibawa oleh Ali dengan sebuah agresi bersenjata. Mereka melancarkan serangan terbuka terhadap rombongan Madinah. Namun, Ali bin Abi Thalib, dengan usianya yang masih sangat muda dan hanya memimpin pasukan kecil berkekuatan tiga ratus orang, mampu menerapkan taktik defensif-aktif yang sangat efisien.

Seketika serangan pertama dari pihak musuh berhasil diredam, pasukan Ali berhasil memecah dan membuat barisan penyerang cerai-berai. Pihak penyerang yang sempat terpukul mundur kemudian mencoba menyusun kembali barisan tempur mereka di medan laga.

Menyadari potensi ancaman tersebut, Ali bergerak cepat melakukan manuver pengepungan yang ketat terhadap posisi musuh. Taktik pengepungan yang mendadak ini menimbulkan kepanikan massal di dalam barisan pertahanan lawan. Merasa terpojok dan kehilangan opsi taktis, kabilah tersebut akhirnya memutuskan untuk menyerah tanpa syarat kepada pasukan Madinah.

Pasca-kekalahan militer tersebut, terjadi transformasi spiritual yang mendalam di kalangan penduduk lokal. Mereka menyatakan masuk Islam secara sukarela dan berkomitmen menjadi pemeluk agama yang baik serta patuh pada hukum negara. Segala bentuk pengajaran fikih dan administrasi publik yang diberikan oleh Muadz bin Jabal beserta para sahabat lainnya kini mereka dengarkan dengan penuh saksama dan khidmat.

Sebagai bentuk ketundukan total, mereka segera mengirimkan delegasi resmi ke ibu kota. Utusan dari kabilah Yaman ini tercatat dalam lembaran sejarah sebagai delegasi diplomatik terakhir yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad di Madinah sebelum beliau berpulang ke rahmatullah.

Gema Panggilan Haji Akbar dari Madinah

Sementara Ali bin Abi Thalib sedang disibukkan dengan urusan konsolidasi dan bersiap-siap kembali menuju Mekah, di kota Madinah, Nabi Muhammad juga sedang melakukan persiapan besar untuk menunaikan ibadah haji.

Beliau mengeluarkan maklumat resmi yang meminta seluruh umat Islam di segenap penjuru Jazirah Arab untuk mempersiapkan diri ikut serta dalam perjalanan suci tersebut. Bulan berganti bulan, dan ketika lembaran kalender menunjukkan bulan Zulkaidah sudah hampir berakhir, atmosfer antisipasi di kota Madinah semakin mencapai puncaknya.

Sepanjang sejarah hidupnya, Nabi Muhammad belum pernah sekalipun melakukan ibadah haji akbar semenjak syariat tersebut diturunkan, meskipun sebelum itu beliau sudah dua kali mengadakan ibadah umrah yang dikategorikan sebagai haji asghar atau haji kecil.

Dalam ibadah haji, terdapat rangkaian manasik atau upacara ritual keagamaan yang sangat spesifik. Dalam konteks ini, keberadaan Nabi Muhammad bertindak sebagai uswah atau contoh hidup (role model) yang mutlak bagi seluruh umat Islam dalam tata cara pelaksanaan ibadah tersebut. Begitu publik mengetahui secara pasti bahwa Nabi telah menetapkan jadwal keberangkatan dan mengajak umat untuk mendampingi perjalanannya, berita tersebut langsung tersiar luas ke segenap penjuru semenanjung Arab.

Gelombang mobilisasi massa dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya segera tercipta. Beribu-ribu orang mengalir deras mendatangi kota Madinah dari segala arah mata angin. Mereka datang dari pusat-pusat perkotaan yang maju, dari wilayah pedalaman yang terisolasi, menuruni lembah-lembah gunung, hingga menyeberangi sahara yang gersang.

Seluruh pelosok tanah Arab yang membentang luas, yang pada masa itu telah bersinar terang oleh cahaya tauhid, mengirimkan representasi terbaiknya untuk berkumpul di satu titik yang sama.

Lanskap sosiologis di sekitar kota Madinah seketika berubah total menjadi lautan manusia. Kompleks pemukiman darurat berupa kemah-kemah besar didirikan untuk menampung sekitar seratus ribu orang atau lebih yang datang memenuhi seruan suci sang Rasul.

Mereka datang bukan lagi sebagai perwakilan suku yang saling mencurigai, melainkan sebagai saudara yang memiliki kesetaraan derajat untuk saling mengenal satu sama lain (taaruf). Hubungan antarkomunitas ini diikat erat oleh rasa kasih sayang yang tulus, keikhlasan hati yang mendalam, serta semangat ukhuwah islamiah yang tinggi.

Pemandangan ini menjadi simbol runtuhnya tembok feodalisme jahiliah. Manusia yang berjumlah ratusan ribu itu kini memenuhi jalanan kota dengan bibir yang tersenyum serta wajah yang cerah berseri-seri.

Berkumpulnya massa dalam jumlah masif ini merupakan refleksi dari sebuah kebenaran ideologis yang telah mencapai kemenangan mutlak di atas panggung sejarah. Nur Ilahi telah tersebar secara merata dan mengikat hati mereka menjadi satu kesatuan yang kukuh, teguh, dan tak tergoyahkan, bagaikan sebuah struktur bangunan yang kokoh.

Integrasi sosial dan hilangnya sentimen kesukuan ini selaras dengan penegasan Allah dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 103 yang menggambarkan nikmatnya persatuan:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Artinya: Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-muda, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat-Nya, orang-orang yang bersaudara.

Pakar sosiologi sejarah Islam, Ira M. Lapidus, dalam karyanya Sejarah Sosial Umat Islam (2000), menjelaskan bahwa keberhasilan Nabi Muhammad dalam mengumpulkan seratus ribu massa dalam satu ritme ibadah yang teratur merupakan pencapaian integrasi sosial terbesar dalam sejarah dunia silsilah Arab.

Melalui ritual haji akbar inilah, polarisasi kuno antara Hijaz dan Yaman, serta friksi abadi antara kaum urban dan badui, dilebur sepenuhnya ke dalam satu identitas baru yang berbasis pada kesetaraan hukum di hadapan Tuhan, yang kelak menjadi modal dasar bagi ekspansi peradaban Islam ke panggung dunia pasca-wafatnya Rasulullah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)