LANGIT7.ID-Jakarta; Kebanyakan umat Islam saat ini kurang memiliki literasi keuangan, atau mereka mendapatkan pendidikan keuangan dari orang non-Muslim seperti Dave Ramsey, Robert Kiyosaki (penulis Rich Dad Poor Dad), atau yang lebih parah lagi, dari TikToker. Sungguh disayangkan, karena banyak sekali tokoh Muslim dari sejarah Islam yang kaya akan pelajaran yang bisa kita ambil.
Salah satu tokoh Muslim tersebut adalah Abdurrahman bin Auf (RA), yang terkenal sebagai salah satu sahabat terdekat dan terkaya Nabi Muhammad ﷺ. Namun sangat sedikit orang yang mengetahui delapan rahasia membangun kekayaan dari kehidupannya yang telah kami teliti dari sumber-sumber klasik, seperti Thabaqat Ibnu Sa'ad, yang mengisahkan hidupnya lengkap dengan cerita-cerita nyata [1].
Beberapa di antaranya bahkan merupakan strategi sederhana yang bisa langsung ditiru untuk menjadi lebih kaya saat ini, di zaman modern sekalipun. Jadi, pastikan Anda membaca sampai akhir.
Namun pertama-tama, siapakah Abdurrahman bin Auf (RA)?
Lahir pada tahun 581 M di Makkah, Abdurrahman bin Auf (RA) terkenal sebagai salah satu sahabat terdekat dan terkaya Nabi Muhammad ﷺ. Beliau juga termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Nabi ﷺ [2].
Tidak banyak tokoh di dunia keuangan modern yang dapat menandingi skala kekayaan Abdurrahman bin Auf (RA). Beliau dikenal pernah memasuki Madinah dengan kafilah yang terdiri dari 700 unta bermuatan barang. Satu ekor unta pada masa itu setara dengan mobil super di zaman kita, dan semua itu beliau sedekahkan. Kisah-kisah tentang kedermawanannya sangatlah legendaris. Namun di balik kedermawanan itu, terdapat strategi, ketekunan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Jadi, mari kita bahas lebih dalam. Dimulai dengan salah satu rahasia kekayaan dari kehidupannya yang paling sering terabaikan.
1. Memilih Kemandirian daripada Ketergantungan
Anda mungkin mengira bahwa Abdurrahman (RA) mewarisi kekayaannya, tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Ketika beliau tiba di Madinah setelah melarikan diri dari penganiayaan di Makkah, beliau benar-benar tidak memiliki apa pun setelah meninggalkan sebagian besar hartanya, sebagaimana yang dialami para muhajirin lainnya. Beliau memulai dari nol lagi.
Saat tiba, Nabi ﷺ mempersaudarakannya dengan Sa'ad bin ar-Rabi', yang menawarkan separuh hartanya bahkan salah satu istrinya kepada beliau.
Namun, Abdurrahman (RA) dengan sopan menolak, dan beliau berkata dengan terkenal, "Tunjukkan saja padaku arah ke pasar."
Beliau mulai berdagang komoditas dasar seperti yoghurt kering dan mentega, memastikan setiap transaksi yang dilakukannya transparan.
Mengapa?
Karena kemandirian adalah inti dari ajaran Islam kita.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd 13:11)
Kita bukanlah umat yang suka bergantung pada bantuan, tetapi umat yang penuh aksi dan proaktif, dengan sikap "bisa". Abdurrahman (RA) ingin berdiri di atas kakinya sendiri semampunya, meskipun beliau ditawari bantuan—bantuan halal yang sah dari sahabat-sahabatnya. Beliau tidak ingin menerimanya; beliau ingin melakukannya sendiri, dan sikap itulah yang membuatnya membangun bisnis yang sangat makmur dalam waktu singkat.
Dan beliau bahkan menikah di usia muda.
Banyak pengusaha saat ini berusaha menunda pernikahan dengan alasan, "Biarkan saya membangun bisnis atau karier dulu. Di usia 20-an, saya ingin fokus pada itu, dan saya tidak ingin cepat-cepat menikah."
Abdurrahman (RA) justru menikah sangat muda, dan bagi Anda yang belum menikah, itu adalah pelajaran berharga. Menikah muda bisa menjadi rahasia kekayaan tersendiri. Dan itu membuahkan hasil, karena dalam hitungan hari, Abdurrahman (RA) sudah memiliki emas yang cukup untuk mahar dan lebih.
Dalam satu riwayat yang kurang dikenal dari Thabaqat as-Sa'd, disebutkan bahwa beliau benar-benar mencatat dengan sangat teliti agar tidak ada transaksi curang atau tidak etis yang bisa masuk sedikit pun.
2. Melakukan Uji Tuntas (Due Diligence)
Rahasia kekayaan berikutnya adalah melakukan uji tuntas. Abdurrahman (RA) bukan sekadar penonton. Beliau mempelajari tren pasar, membangun hubungan yang kuat, dan menginvestasikan kembali keuntungannya.
Al-Qur'an berbicara tentang ihsan atau keunggulan dalam setiap usaha yang kita lakukan.
"Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al-Baqarah 2:195)
Dengan kata lain, pastikan Anda membuat keputusan yang bijaksana dan berbuat baik. Sungguh, Allah SWT mencintai orang-orang yang berbuat baik dan mencintai orang-orang yang memiliki ihsan, yaitu mereka yang berusaha mencapai keunggulan.
Menurut beberapa riwayat, Abdurrahman (RA) secara pribadi memeriksa kualitas barang, memastikan harga yang adil sehingga pelanggan baru pun merasa aman membeli darinya.
Sebuah kisah dari sumber sejarah awal menyebutkan bahwa jika beliau menduga suatu produk mungkin cacat, beliau akan menandainya dengan jelas dan menurunkan harganya, bukannya berusaha menyembunyikan kekurangannya. Hal ini membuatnya memiliki reputasi yang sangat baik. Dan di mana kepercayaan tumbuh subur, di situ bisnis pun berkembang pesat.
3. Kemitraan dan Kolaborasi
Selanjutnya, mari kita bahas tentang kolaborasi.
Al-Qur'an mendorong kita untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan..." (QS. Al-Ma'idah 5:2)
Alih-alih menimbun modal, Abdurrahman (RA)—yang telah diberikan begitu banyak dan yang bisa saja berkata, "Saya tidak ingin mengirimkan sedikit pun uang saya, saya tidak ingin membantu orang-orang di sekitar saya agar mereka tidak menjadi pesaing saya"—justru tidak berpikir seperti itu.
Beliau justru berbagi sumber dayanya, memberikan pinjaman tanpa bunga (qardh hasan) kepada para pedagang kecil agar mereka bisa memulai usaha. Beliau tidak khawatir apakah mereka akan menjadi pesaingnya; tidak, beliau justru membantu mereka, dan karena tidak ada riba, hubungan itu tidak bersifat eksploitatif.
Kitab Thabaqat Ibnu Sa'ad mencatat bahwa banyak pengusaha baru di Madinah berhasil berkat bantuan Abdurrahman (RA). Mereka mengembalikan pinjaman jika mampu; jika tidak, beliau terkadang menghapus utang mereka. Dan coba tebak? Ketika para pedagang itu sukses, mereka kemudian membawa lebih banyak bisnis kepadanya sebagai wujud rasa terima kasih. Itulah kemenangan bersama yang luar biasa (win-win).
4. Melunasi Utang dan Memberikan Pinjaman Tanpa Bunga
Sekarang mari kita beralih ke riwayat legendaris dari Thalhah (RA) yang mengatakan bahwa sepertiga penduduk Madinah memiliki utang yang dilunasi oleh Abdurrahman (RA) untuk mereka. Sepertiga lainnya mengambil pinjaman tanpa bunga darinya agar bisa berkembang dan membangun bisnis mereka. Dan sepertiga sisanya, mereka menerima sedekah langsung dari Abdurrahman (RA).
Thalhah (RA) terkenal mengatakan bahwa seluruh penduduk Madinah hidup dari (bantuan) Abdurrahman (RA). Bayangkan skalanya: beliau secara sistematis membebaskan orang-orang dari beban utang, membantu mereka berdiri di atas kaki sendiri, lalu menopang seluruh keluarga dengan sedekah murni di mana pun diperlukan.
Sebagaimana Abdurrahman (RA) menjaga umatnya, kita juga harus bersatu padu saat ini dan menjaga komunitas kita. Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan bergabung dalam keluarga IFG dan membagikan artikel ini kepada orang lain yang Anda kira akan mendapatkan banyak manfaat darinya, insya Allah.
5. Sedekah Melipatgandakan Harta
Yang satu ini, mungkin sudah pernah Anda dengar sebelumnya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Sedekah tidaklah mengurangi harta." (HR. Muslim no. 2588)
Tapi mari kita lihat bagaimana penerapannya dalam kehidupan nyata.
Sejarawan menyebutkan bahwa pernah suatu ketika Abdurrahman (RA) membawa kafilah 700 unta bermuatan barang ke Madinah. Ketika bagian depan kafilah itu telah keluar dari Madinah, bagian belakangnya bahkan belum memasuki sisi lain Madinah. Itulah sepanjang kafilah tersebut.
Ketika beliau mendengar sebuah hadits dari Nabi Muhammad ﷺ yang mengingatkannya tentang ujian harta di akhirat, beliau mulai menangis, dan langsung menyedekahkan seluruh kafilah itu saat itu juga. Karena beliau peduli pada akhirat; beliau tidak terikat pada harta itu meskipun harta itu mengejarnya. Bagi mata orang luar, itu tampak gila, namun itu justru semakin menambah keberkahan hartanya. Tak lama kemudian, peluang-peluang menguntungkan lainnya datang, yang mengembalikan kekayaannya berlipat ganda lagi.
Allah SWT membicarakan jenis tindakan seperti ini dalam Al-Qur'an ketika Dia berfirman tentang meminjamkan kepada Allah SWT pinjaman yang baik.
"Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sehingga Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya berlipat ganda?" (QS. Al-Baqarah 2:245).
Anda lihat, ini bukan sekadar teori. Abdurrahman (RA) benar-benar menjalani kehidupan seperti ini.
6. Kerendahan Hati dan Ketakutan akan Kemewahan
Meskipun memiliki kekayaan besar, Abdurrahman (RA) tidak pernah menjadi sombong. Ada riwayat di mana beliau menangis ketika makanan mewah dihidangkan untuknya, mengingat bahwa sahabatnya, Mush'ab bin Umair (RA), yang wafat dalam keadaan hampir tidak memiliki apa pun, tidak akan pernah melihat hidangan seperti itu. Beliau dilaporkan berkata, "Aku khawatir kebaikan (balasan) kita telah diberikan di dunia ini, bukan di akhirat kelak."
Dan ini adalah seorang pria yang dijamin masuk surga oleh Nabi Muhammad ﷺ. Beliau sudah dipastikan akan masuk surga, namun demikianlah tingkat kerendahan hati dan ketakwaannya.
Al-Qur'an memperingatkan tentang kesombongan, dan beliau menanggapi peringatan itu dengan sungguh-sungguh. Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Luqman 31:18).
Abdurrahman (RA) senantiasa memeriksa hatinya, memastikan bahwa kekayaan tidak membuatnya melupakan tujuan batiniahnya.
7. Bersyukur dengan Tindakan Nyata
Allah SWT dalam Al-Qur'an menjanjikan sesuatu yang luar biasa:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu..." (QS. Ibrahim 14:7).
Sejarawan mengatakan bahwa Abdurrahman (RA) akan menandai setiap keberhasilan dagangnya dengan rasa syukur yang ekstra: membagikan makanan kepada fakir miskin, kadang membebaskan budak sebagai ungkapan syukur langsung.
Dan satu kisah yang kurang dikenal adalah bahwa pernah ada suatu panen dari kebun miliknya yang hasilnya hampir tiga kali lipat dari perkiraan. Beliau langsung mengadakan jamuan makan umum, menyatakan bahwa semua ini dari Allah SWT, maka biarlah ciptaan Allah ikut menikmatinya. Itu lebih dari sekadar kata-kata; beliau menunjukkan rasa syukur dengan tindakannya, dan itu pada gilirannya membawa lebih banyak keberkahan pada hartanya.
8. Introspeksi Diri Secara Rutin
Abdurrahman (RA) khawatir bahwa kekayaan bisa menjadi perangkap. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr 59:18).
Abdurrahman (RA) secara teratur merenungkan keseimbangan antara apa yang telah disedekahkan dan apa yang dikumpulkan. Riwayat menyebutkan bahwa beliau benar-benar menyimpan catatan terbaru tentang berapa banyak unta, kambing, atau koin emas yang dimilikinya, kemudian memeriksanya silang dengan berapa banyak yang telah didistribusikan di jalan Allah SWT.
Dengan terus-menerus melakukan introspeksi ini, beliau memastikan bahwa kesejahteraan moral dan spiritualnya berjalan seiring dengan pertumbuhan finansialnya secara bersamaan.(*/saf/islamicfinanceguru)
(lam)