Jangan Sia-Siakan, Ini Keutamaan I’tikaf di 10 Hari Terakhir Ramadhan
Muhajirin
Rabu, 12 April 2023 - 09:37 WIB
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof Yahya Zainul Maarif (Buya Yahya).
I’tikaf merupakan ibadah yang sangat dianjurkan pada 10 hari terakhir Ramadhan. I’tikaf dilakukan di masjid. Bisa 24 jam atau hanya mengambil malamnya saja. Terpenting niat untuk mengejar keistimewaan malam-malam Ramadhan.
Apalagi, Allah mengisyarakatkan lailatul qadar turun pada 10 terakhir Ramadhan. Demi meraih lailatul qadar, seorang muslim hendaknya senantiasa memperbanyak ibadah. Selain puasa, ada banyak ibadah yang bisa dilakukan seperti tilawah Al-Qur’an, dzikir, hingga sedekah.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan, lailatul qadar merupakan malam yang didambakan seluruh umat Islam di dunia. Pada malam ini, setiap amalan akan diganjar seolah-olah dikerjakan selama seribu bulan.
“Disembunyikan Allah di antara hari-hari Ramadhan, itu tanda kasih sayang Allah tak memberitahu kapan pastina malam lailatul qadar. Jika Allah beritahu, maka berantakan dunia ini,” kata Buya Yahya saat menyampaikan kajian Ramadhan secara daring, Selasa (11/4/2023)
Maka itu, kata dia, umat Islam tidak sepatutnya memilih-milih hari atau waktu untuk memperbanyak ibadah. Jika memperbanyak ibadah sejak awal Ramadhan, atau setidaknya 10 terakhir Ramadhan, maka sudah pasti mendapatkan lailatul qadar.
“Menghidupkan ibadah menggapai lailatul qadar bisa di awal waktu atau di akhir waktu, tidak ada ketentuan, namun diutamakan di akhir waktu,” ungkap Buya Yahya.
Buya Yahya menegaskan, siapapun yang memperbanyak ibadah untuk mencapai lailatul qadar, maka dia akan mendapatkannya. Sekalipun dia menemui lailatul qadar dan tidak sadar telah mendapatkan kemuliaan itu.
Apalagi, Allah mengisyarakatkan lailatul qadar turun pada 10 terakhir Ramadhan. Demi meraih lailatul qadar, seorang muslim hendaknya senantiasa memperbanyak ibadah. Selain puasa, ada banyak ibadah yang bisa dilakukan seperti tilawah Al-Qur’an, dzikir, hingga sedekah.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan, lailatul qadar merupakan malam yang didambakan seluruh umat Islam di dunia. Pada malam ini, setiap amalan akan diganjar seolah-olah dikerjakan selama seribu bulan.
“Disembunyikan Allah di antara hari-hari Ramadhan, itu tanda kasih sayang Allah tak memberitahu kapan pastina malam lailatul qadar. Jika Allah beritahu, maka berantakan dunia ini,” kata Buya Yahya saat menyampaikan kajian Ramadhan secara daring, Selasa (11/4/2023)
Maka itu, kata dia, umat Islam tidak sepatutnya memilih-milih hari atau waktu untuk memperbanyak ibadah. Jika memperbanyak ibadah sejak awal Ramadhan, atau setidaknya 10 terakhir Ramadhan, maka sudah pasti mendapatkan lailatul qadar.
“Menghidupkan ibadah menggapai lailatul qadar bisa di awal waktu atau di akhir waktu, tidak ada ketentuan, namun diutamakan di akhir waktu,” ungkap Buya Yahya.
Buya Yahya menegaskan, siapapun yang memperbanyak ibadah untuk mencapai lailatul qadar, maka dia akan mendapatkannya. Sekalipun dia menemui lailatul qadar dan tidak sadar telah mendapatkan kemuliaan itu.