Idul Fitri Hari Kemenangan, Bukan Ajang Pamer
Muhajirin
Jum'at, 21 April 2023 - 16:00 WIB
Hari raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan, bukan ajang pamer.Foto/ilustrasi
Idul Fitri merupakan hari raya kemenangan umat Islam, bukan ajang pamer (narsisme) atau riya. Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Komisi Infokom MUI, Dr Thobib Al-Asyhar.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW secara implisit menegaskan puasa merupakan ibadah paling rahasia yang hanya diketahui pengamalnya dan Allah Ta’ala.
“Seluruh amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi 10 sampai 700 kali lipat. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa, sebab puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku’.” (HR Bukhari-Muslim)
Artinya, puasa mendidik manusia agar tidak riya (pamer) kepada orang lain. Apapun bentuknya. Baik harta, kemewahan, amal sosial, ibadah, liburan di tempat-tempat mahal, maupun perilaku lain. Ada hal-hal yang harus dan tidak perlu ada orang lain tahu. Tidak semua hal harus diketahui orang lain, bahkan pasangan sekalipun.
“Contoh sederhana, ibadah shalat malam (tahajud) yang kita lakukan, apakah perlu diberitahukan kepada orang lain? Jika niatnya beribadah kepada Allah, buat apa orang lain tahu?” kata Thobib di laman MUI, dikutip Jumat (21/4/2023).
Pada titik ini, selain hal-hal yang tampak dan perlu ditampakkan, dalam diri manusia ada hal tersembunyi dan harus disembunyikan. Itu untuk kebaikan manusia itu sendiri dan ibadah puasa dengan terang-benderang mengajarkan hal tersebut.
Sesuatu yang tampak dari diri manusia adalah perbuatan fisik yang tidak semuanya harus ‘ditampakkan’. Sementara, perilaku yang tak tampak adalah kerja-kerja pikiran dan hati. Apalagi menyangkut kerja-kerja spiritual, seperti beribadah dan berdoa.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW secara implisit menegaskan puasa merupakan ibadah paling rahasia yang hanya diketahui pengamalnya dan Allah Ta’ala.
“Seluruh amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi 10 sampai 700 kali lipat. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa, sebab puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku’.” (HR Bukhari-Muslim)
Artinya, puasa mendidik manusia agar tidak riya (pamer) kepada orang lain. Apapun bentuknya. Baik harta, kemewahan, amal sosial, ibadah, liburan di tempat-tempat mahal, maupun perilaku lain. Ada hal-hal yang harus dan tidak perlu ada orang lain tahu. Tidak semua hal harus diketahui orang lain, bahkan pasangan sekalipun.
“Contoh sederhana, ibadah shalat malam (tahajud) yang kita lakukan, apakah perlu diberitahukan kepada orang lain? Jika niatnya beribadah kepada Allah, buat apa orang lain tahu?” kata Thobib di laman MUI, dikutip Jumat (21/4/2023).
Pada titik ini, selain hal-hal yang tampak dan perlu ditampakkan, dalam diri manusia ada hal tersembunyi dan harus disembunyikan. Itu untuk kebaikan manusia itu sendiri dan ibadah puasa dengan terang-benderang mengajarkan hal tersebut.
Sesuatu yang tampak dari diri manusia adalah perbuatan fisik yang tidak semuanya harus ‘ditampakkan’. Sementara, perilaku yang tak tampak adalah kerja-kerja pikiran dan hati. Apalagi menyangkut kerja-kerja spiritual, seperti beribadah dan berdoa.