Kisah Serma Riadi Tentara Guru Ngaji dan Lara Hati Anak-anak Pulau Buru
Tim langit 7
Selasa, 09 Mei 2023 - 06:00 WIB
Serma Riadi (kiri), Babinsa di Desa Hote, Kecamatan Waesama, Kabupaten Buru Selatan, Maluku dan Danrem 084/Bhaskara Jaya, Brigjen TNI Terry Tresna Purnama.
Tangis mengiring siang yang didera terik matahari di Hote, Waesama, Buru Selatan, Maluku. Ketika puluhan anak memeluk sedih karena ingin menahan kepergian Sersan Mohammad Riadi. Bintara pembina desa (Babinsa) itu tengah bersiap-siap meninggalkan wilayah tugasnya. Ia akan mulai pengabdiannya di tempat baru, di Bangkalan, Madura.
Hingga deru motor Honda GL Pro berwarna hijau tentara itu tinggal sayup terdengar, tangisan anak-anak ini tak kunjung reda. Lara hatinya. Karena ditinggal bertugas 'Om Tentara' yang selama ini menjadi sosok orang tua bagi bocah-bocah di Desa Hote, tempat Serma Riady dan isterinya tinggal.
Di desa kecil ini, bintara kelahiran Bangkalan, 18 November 1984 itu lebih dikenal sebagai guru mengaji daripada tentara. Mengawali dinas di Batalyon Infanteri 731/Kabaresi pada 2006, lalu ke Resimen Induk Kodam XVI/Pattimura, kemudian ke Koramil 1506-05 Kodim 1506/Namlea, membuatnya kadung cinta pada Maluku.
Baca juga:Sepak Terjang Dakwah Sultan Baabullah Datu Syah, Mercusuar Syiar Islam di Nusantara
Tak sanggup lagi hatinya berpisah dengan indahnya biru laut dan segarnya angin pantai yang menghembus sepoi-sepoi basah di kepulauan rempah itu. Air yang diminum dan udara yang dihirupnya di Maluku sudah menjerat hatinya. Apalagi, kala ia memutuskan memilih jalan pengabdian mengajar baca Al Quran kepada anak-anak di desa itu melampaui tugasnya pokoknya.
Kerja itu mulai dilakoninya awal 2020. Bermula dari keprihatinannya melihat anak-anak di Kepulauan Buru bagian selatan yang mulai malas belajar setelah pandemi Covid-19.
"Awalnya, di sela-sela tugas sebagai Babinsa, saya membuka kursus Bahasa Inggris gratis bagi anak-anak usai sekolah. Mereka sangat meminatinya. Para orang tua pun merasa terbantu. Sampai kemudian mereka mulai malas belajar setelah sekolah diliburkan karena pandemi," tutur Riadi.
Hingga deru motor Honda GL Pro berwarna hijau tentara itu tinggal sayup terdengar, tangisan anak-anak ini tak kunjung reda. Lara hatinya. Karena ditinggal bertugas 'Om Tentara' yang selama ini menjadi sosok orang tua bagi bocah-bocah di Desa Hote, tempat Serma Riady dan isterinya tinggal.
Di desa kecil ini, bintara kelahiran Bangkalan, 18 November 1984 itu lebih dikenal sebagai guru mengaji daripada tentara. Mengawali dinas di Batalyon Infanteri 731/Kabaresi pada 2006, lalu ke Resimen Induk Kodam XVI/Pattimura, kemudian ke Koramil 1506-05 Kodim 1506/Namlea, membuatnya kadung cinta pada Maluku.
Baca juga:Sepak Terjang Dakwah Sultan Baabullah Datu Syah, Mercusuar Syiar Islam di Nusantara
Tak sanggup lagi hatinya berpisah dengan indahnya biru laut dan segarnya angin pantai yang menghembus sepoi-sepoi basah di kepulauan rempah itu. Air yang diminum dan udara yang dihirupnya di Maluku sudah menjerat hatinya. Apalagi, kala ia memutuskan memilih jalan pengabdian mengajar baca Al Quran kepada anak-anak di desa itu melampaui tugasnya pokoknya.
Kerja itu mulai dilakoninya awal 2020. Bermula dari keprihatinannya melihat anak-anak di Kepulauan Buru bagian selatan yang mulai malas belajar setelah pandemi Covid-19.
"Awalnya, di sela-sela tugas sebagai Babinsa, saya membuka kursus Bahasa Inggris gratis bagi anak-anak usai sekolah. Mereka sangat meminatinya. Para orang tua pun merasa terbantu. Sampai kemudian mereka mulai malas belajar setelah sekolah diliburkan karena pandemi," tutur Riadi.