Musibah dan Kehidupan
Tim langit 7
Selasa, 18 Juli 2023 - 05:00 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Hidup itu tantangan. Kehidupan itu sendiri adalah perjuangan. Karenanya siapapun yang hidup di atas bumi ini pastinya akan tertantang. Dari raja-raja dan pemilik kekuasaan, para pebisnis dan saudagar yang kaya raya, hingga mereka yang papah melarat dan dipandang hina dina. Semua pastinya menghadapi ujian atau cobaan sesuai kadar dan ketentuan Penguasa alam semesta.
Musibah yang biasa diterjemahkan dengan “cobaan” atau “ujian” sesungguhnya bermakna “target”. Kata ini berasal dari kata “ashoba” (menarget). Sehingga mushibah yang seolah kata benda sebenarnya juga berbentuk kata “faa’il” (pelaku). Bermakna bahwa sesuatu yang menimpa kita itu adalah pelaku yang menarget targetnya.
Dari pemaknaan ini sebenarnya dipahami bahwa sebuah cobaan atau ujian pastinya memiliki target yang pasti. Target ini yang kita pahami sebagai “hikmah” dari terjadinya musibah dalam kehidupan manusia.
Baca juga:Alhamdulillah! Jepang Izinkan Azan Berkumandang di Masjid
Sebagaimana kehidupan, dunia ini sendiri identik dengan tempat di mana ujian itu pasti berlaku. Bahkan ujian itu bersifat natural (alami) dan pasti? bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia. Ujian hanya akan berakhir dengan berakhirnya hidup sementara dan dunia ini ditinggalkan.
Oleh karena itu, isu yang sesungguhnya bukan pada ujian dan musibah. Tapi lebih kepada bagaimana cara pandang (mindset) kita dalam memahami dan merespon setiap ujian yang terjadi dalam hidup.
Seorang Mukmin tentunya dalam memandang segalanya akan memakai “pandangan” yang menyeluruh. Selain pandangan lahir juga tidak kalah pentingnya seorang Mukmin akan memandang segala sesuatu dalam hidupnya dengan mata batin (hati/iman). Sehingga penilaian dan respon yang diambil tidak dibatasi pada penilaian dan respon lahir semata.
Musibah yang biasa diterjemahkan dengan “cobaan” atau “ujian” sesungguhnya bermakna “target”. Kata ini berasal dari kata “ashoba” (menarget). Sehingga mushibah yang seolah kata benda sebenarnya juga berbentuk kata “faa’il” (pelaku). Bermakna bahwa sesuatu yang menimpa kita itu adalah pelaku yang menarget targetnya.
Dari pemaknaan ini sebenarnya dipahami bahwa sebuah cobaan atau ujian pastinya memiliki target yang pasti. Target ini yang kita pahami sebagai “hikmah” dari terjadinya musibah dalam kehidupan manusia.
Baca juga:Alhamdulillah! Jepang Izinkan Azan Berkumandang di Masjid
Sebagaimana kehidupan, dunia ini sendiri identik dengan tempat di mana ujian itu pasti berlaku. Bahkan ujian itu bersifat natural (alami) dan pasti? bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia. Ujian hanya akan berakhir dengan berakhirnya hidup sementara dan dunia ini ditinggalkan.
Oleh karena itu, isu yang sesungguhnya bukan pada ujian dan musibah. Tapi lebih kepada bagaimana cara pandang (mindset) kita dalam memahami dan merespon setiap ujian yang terjadi dalam hidup.
Seorang Mukmin tentunya dalam memandang segalanya akan memakai “pandangan” yang menyeluruh. Selain pandangan lahir juga tidak kalah pentingnya seorang Mukmin akan memandang segala sesuatu dalam hidupnya dengan mata batin (hati/iman). Sehingga penilaian dan respon yang diambil tidak dibatasi pada penilaian dan respon lahir semata.