home edukasi & pesantren

As-Sholatu al-Ibtahimiyah dan Bangsa Besar Itu

Kamis, 10 Agustus 2023 - 22:54 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Salah satu tugas sehari-hari saya saat ini adalah memberikan pelayanan spiritual (spiritual care) kepada para pasien dan pekerja rumah sakit (dokter, perawat,dll) di rumah sakit Bellevue di kota New York. Rumah sakit ini adalah rumah sakit pemerintah terbesar dengan jumlah pasien tidak pernah kurang dari 800 orang setiap harinya.

Selain tugas di atas, saya juga memimpin masjid rumah sakit yang cukup besar, memuat lebih 200 orang. Selain para Dokter, perawat dan pegawai rumah sakit, jamaah Masjid ini juga datang dari rumah sakit New York dan Tilsh. Dua rumah sakit besar lainnya yang terletak tidak jauh dari Bellevue.

Yang ingin saya sampaikan kali ini adalah bahwa kami pelayan spiritual, biasa digelari dengan “spiritual doctor” (Dokter kerohaniaan) terdiri dari ragam latar belakang agama. Ada Pendeta Katolik, Kristen Protestan, Rabbi Yahudi, bahkan ada yang disebut “humanis spiritual care provider” (pelayan kerohaniaan humanis). Staf humanis ini mengaku tidak percaya Tuhan (atheis) dan tidak memiliki afiliasi agama.

Walaupun kami berbeda, bahkan dalam hal yang sangat prinsip, kami semua merasa bertugas memberikan pelayanan yang sama dan terbaik bagi kemanusiaan (humanity). Bagi kami yang beragama tentu pelayanan ini melalui tuntunan agama yang diyakini masing-masing.

Yang menarik adalah setiap hari kami berkumpul selama 30 menit untuk berdiskusi dan sharing pengalaman dalam melakukan tugas, tentu sesuai perpektif kami masing-masing. Namun tidak jarang diskusi itu menyentuh hal-hal yang bersifat “personal” masing-masing agama. Bahwa pada setiap agama itu ada hal-hal unik yang tidak bahkan berlawanan dengan agama dan keyakinan orang lain.

Sebagai misal, saya sebagai seorang Muslim tentu ketika menyapa pasien atau petugas rumah sakit Katolik tidak akan memberikan simbol-simbol Katolik. Ketika mendoakan untuk kesembuhan seorang Katolik tidak mungkin saya ditutup dengan “atas nama Yesus” misalnya. Karena hal ini tidak sejalan dengan keyakinan saya.

Demikian sebaliknya Pendeta Katolik ketika menjenguk pasien Muslim maka dia harus sensitif dan tidak memperlihatkan simbol-simbol agama Katolik. Kalaupun mendoakan untuk kesembuhan maka doa itu tidak boleh dikaitkan dengan keyakinannya dengan menutup “atas nama Yesus” misalnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
bangsa indonesia imam shamsi ali
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya