Mengenal Makna Sejarah dalam Islam, Beda dengan History ala Sekuler
Muhajirin
Senin, 14 Agustus 2023 - 15:00 WIB
ilustrasi
Dalam masyarakat yang tidak bertuhan alias sekuler, sejarah didekati melalui tiga sisi. Pertama, pandangan siklus, artinya sejarah itu berjalan seperti sebuah siklus dan mengalir alami. Tidak ada tuhan atau tujuan dibalik kejadian itu. Pandangan Yunani kuno ini masih diminati oleh Nietzsche atau Spangler.
Kedua, pandangan providensial, artinya sejarah itu sepenuhnya dibimbing oleh Tuhan, dan manusia tidak punya peran yang berarti. Ini bersifat Deterministik. Tapi, pandangan ketiga yang juga deterministik adalah pandangan deterministik Sekuler. Artinya sejarah itu diciptakan bukan oleh kekuatan manusia tapi oleh motif-motif ekonomi (Marxis, Hegel).
Dalam ketiga pendekatan tersebut, manusia dianggap tidak berkehendak, tidak bercita-cita, tidak bertanggungjawab, tidak pula bermoral alias tidak hidup.
Pendiri dan Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) dan Center of Islamic and Occidental Studies (CIOS), Hamid Fahmy Zarkasyi, menjelaskan, dalam Islam makna sejarah sejalan dengan makna realitas.
Baca juga:Gaya Baru Pernikahan, Calon Pengantin Berwakaf Uang Keabadian Cinta
"Terdapat pandangan dualitas yang tidak dualistis dan bukan pula dualisme. Di satu sisi ada Tuhan yang menciptakan, ada alam semesta yang diciptakan," kata Hamid melalui laman Insists, dikutip Senin (14/8/2023).
Akan tetapi, Tuhan tidak menjadi bagian dari alam, karena Dia transenden. Tuhan mengatur dunia tanpa menjadi bagian daripadanya. Di sisi lain terdapat manusia yang juga diciptakan. Manusia, meski diciptakan, ia bukan benda mati.
Kedua, pandangan providensial, artinya sejarah itu sepenuhnya dibimbing oleh Tuhan, dan manusia tidak punya peran yang berarti. Ini bersifat Deterministik. Tapi, pandangan ketiga yang juga deterministik adalah pandangan deterministik Sekuler. Artinya sejarah itu diciptakan bukan oleh kekuatan manusia tapi oleh motif-motif ekonomi (Marxis, Hegel).
Dalam ketiga pendekatan tersebut, manusia dianggap tidak berkehendak, tidak bercita-cita, tidak bertanggungjawab, tidak pula bermoral alias tidak hidup.
Pendiri dan Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) dan Center of Islamic and Occidental Studies (CIOS), Hamid Fahmy Zarkasyi, menjelaskan, dalam Islam makna sejarah sejalan dengan makna realitas.
Baca juga:Gaya Baru Pernikahan, Calon Pengantin Berwakaf Uang Keabadian Cinta
"Terdapat pandangan dualitas yang tidak dualistis dan bukan pula dualisme. Di satu sisi ada Tuhan yang menciptakan, ada alam semesta yang diciptakan," kata Hamid melalui laman Insists, dikutip Senin (14/8/2023).
Akan tetapi, Tuhan tidak menjadi bagian dari alam, karena Dia transenden. Tuhan mengatur dunia tanpa menjadi bagian daripadanya. Di sisi lain terdapat manusia yang juga diciptakan. Manusia, meski diciptakan, ia bukan benda mati.