Doktor Psikologi UI Kaji Kaitan Gerakan Hijrah dan Intoleransi Beragama
Esti setiyowati
Jum'at, 18 Agustus 2023 - 17:00 WIB
ilustrasi
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia marak dengan gerakan hijrah atau proses transformasi spiritual dan representasi semangat beragama dalam bentuk perubahan fisik, spiritual, dan sosial.
Dalam studinya yang berjudul “Religious Identity Transformation: Explaining Religious Intolerance as Uncertainty Reduction Motivation Through Collective Orientation”, mahasiswa Program Studi Psikologi Program Doktoral Universitas Indonesia (UI), Roosalina Wulandari, menemukan ada masalah intoleransi dan superioritas dalam proses hijrah tersebut.
Hal tersebut, kata Roosalina, berasal dari kuatnya budaya kolektif di Indonesia. Sehingga, perjalanan yang hijrah yang awalnya merupakan proses transformasi spiritual personal, dijalani secara berkelompok.
Dukungan kelompok pun dirasakan penting dalam proses berbagi nilai dan validitas identitas baru sebagai pelaku hijrah.
Akan tetapi, gairah spiritual sering kali dinodai oleh sebagian orang yang merasa paling benar, dan pada akhirnya memunculkan sikap intoleran.
Baca juga:Cerita Bahagia Paskibraka Setelah Tunaikan Tugas di Istana Merdeka
Intoleransi ini tidak hanya ditujukan kepada mereka yang berbeda agama, namun juga kepada sesama pemeluk Islam yang berbeda kelompok atau aliran. Hal ini tentunya menimbulkan kerawanan bagi keberagaman umat beragama di Indonesia.
Dalam studinya yang berjudul “Religious Identity Transformation: Explaining Religious Intolerance as Uncertainty Reduction Motivation Through Collective Orientation”, mahasiswa Program Studi Psikologi Program Doktoral Universitas Indonesia (UI), Roosalina Wulandari, menemukan ada masalah intoleransi dan superioritas dalam proses hijrah tersebut.
Hal tersebut, kata Roosalina, berasal dari kuatnya budaya kolektif di Indonesia. Sehingga, perjalanan yang hijrah yang awalnya merupakan proses transformasi spiritual personal, dijalani secara berkelompok.
Dukungan kelompok pun dirasakan penting dalam proses berbagi nilai dan validitas identitas baru sebagai pelaku hijrah.
Akan tetapi, gairah spiritual sering kali dinodai oleh sebagian orang yang merasa paling benar, dan pada akhirnya memunculkan sikap intoleran.
Baca juga:Cerita Bahagia Paskibraka Setelah Tunaikan Tugas di Istana Merdeka
Intoleransi ini tidak hanya ditujukan kepada mereka yang berbeda agama, namun juga kepada sesama pemeluk Islam yang berbeda kelompok atau aliran. Hal ini tentunya menimbulkan kerawanan bagi keberagaman umat beragama di Indonesia.