Kisah Hidup Arif Budi, Mantan Napi Teroris Belajar Agama dari Internet
Tim langit 7
Selasa, 29 Agustus 2023 - 16:00 WIB
Arif Budi Setyawan, mantan napi teroris belajar agama dari internet
Wajah Arif Budi Setyawan (39) menampakkan rasa penyesalan. Tak bisa dipungkiri, rasa sesal itu tak bisa hilang begitu saja ketika membicarakan masa lalunya. Terlebih saat mengenang pesan ayahnya tentang pentingnya menjadi orang yang baik dalam pikiran dan tindakan dalam hidup.
Matanya berkaca-kaca saat mengisahkan dan mengungkapkan pesan ayahnya yang mendalam. Arif mengungkapkan bagaimana niat baiknya untuk mendalami agama melalui internet malah mengantarkannya ke dalam jaringan terorisme.
Semua itu, kata pria asal Tuban, Jawa Timur ini berawal dari keinginannya untuk lebih mendalami agama, untuk menjalani hidup yang lebih baik. Seiring dengan pertumbuhan teknologi, ia pun tidak terhindar dari arus informasi di internet. Namun, kesalahan besar telah dilakukannya dengan memilih jalur yang keliru dalam memperoleh ilmu agama.
Baca juga:6 Penyakit Gangguan Pernapasan Ancam Warga Akibat Polusi Udara
Arif menceritakan bagaimana ia belajar agama dengan tidak melihat silsilah dan sanad keilmuan gurunya melalui internet. Ia merasa cukup belajar agama dengan informasi yang diperoleh dari berbagai platform media internet secara online. Ironisnya, inilah awal dari perjalanannya menuju jalan hidup yang tidak ia dan keluarganya inginkan.
Kesalahan terbesar yang ia lakukan adalah ketika Arif mulai bergabung dengan kelompok-kelompok diskusi online yang menawarkan pandangan-pandangan radikal. Ia merasa ada persamaan pemikiran dan pendekatan dalam menjalankan agama, dan pada akhirnya terperangkap dalam lingkaran yang berbahaya. Pengaruh dari para tokoh ekstremis di dunia maya membentuk pola pikirnya.
SSaat itu saya mengatakan bahwa saya mau membantu pergerakan terorisme namun dengan hidup tidak jauh dari keluarga,” ungkapnya saat berdiskusi dengan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Mohammad Mukri di Bandarlampung, Ahad (27/8/2023).
Matanya berkaca-kaca saat mengisahkan dan mengungkapkan pesan ayahnya yang mendalam. Arif mengungkapkan bagaimana niat baiknya untuk mendalami agama melalui internet malah mengantarkannya ke dalam jaringan terorisme.
Semua itu, kata pria asal Tuban, Jawa Timur ini berawal dari keinginannya untuk lebih mendalami agama, untuk menjalani hidup yang lebih baik. Seiring dengan pertumbuhan teknologi, ia pun tidak terhindar dari arus informasi di internet. Namun, kesalahan besar telah dilakukannya dengan memilih jalur yang keliru dalam memperoleh ilmu agama.
Baca juga:6 Penyakit Gangguan Pernapasan Ancam Warga Akibat Polusi Udara
Arif menceritakan bagaimana ia belajar agama dengan tidak melihat silsilah dan sanad keilmuan gurunya melalui internet. Ia merasa cukup belajar agama dengan informasi yang diperoleh dari berbagai platform media internet secara online. Ironisnya, inilah awal dari perjalanannya menuju jalan hidup yang tidak ia dan keluarganya inginkan.
Kesalahan terbesar yang ia lakukan adalah ketika Arif mulai bergabung dengan kelompok-kelompok diskusi online yang menawarkan pandangan-pandangan radikal. Ia merasa ada persamaan pemikiran dan pendekatan dalam menjalankan agama, dan pada akhirnya terperangkap dalam lingkaran yang berbahaya. Pengaruh dari para tokoh ekstremis di dunia maya membentuk pola pikirnya.
SSaat itu saya mengatakan bahwa saya mau membantu pergerakan terorisme namun dengan hidup tidak jauh dari keluarga,” ungkapnya saat berdiskusi dengan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Mohammad Mukri di Bandarlampung, Ahad (27/8/2023).