LANGIT7.ID-Jakarta; Imam Besar Australia, Yang Mulia Imam Shadi Alsuleiman, bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani di rumah dinas di Jl Widya Candra, Jakarta. Pertemuan dua tokoh ini berlangsung sangat akrab penuh persahabatan.
Kunjungannya menemui Ketua MPR, menurut yang mulia Imam Shadi karena pimpinan lembaga tinggi negara ini adalah salah satu tokoh penting di Indonesia. Selain itu, Ketua MPR diakui memiliki kedekatan dengan tokoh tokoh muslim di Indonesia sehingga keberadaannya bisa menjadi jembatan persaudaraan kedua negara maupun jembatan bagi silaturahmi umat Islam Australia dengan umat Islam di Indobesia.
Maka saat kedua tokoh ini bertemu topik utama yang dibahas adalah
membahas penguatan hubungan Indonesia dan Australia, sejarah kedekatan kedua negara, hingga perkembangan komunitas Muslim di Australia.
Salah satu pembahasan yang mengemuka adalah pentingnya menjaga hubungan baik Indonesia dan Australia. Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa pemerintah dan masyarakat Australia memberikan perhatian besar terhadap hubungan dengan Indonesia, termasuk upaya mempererat hubungan kedua negara.
"Pemerintah Australia dan masyarakat Australia sangat memberikan perhatian, menghargai dan betul-betul melihat pentingnya hubungan baik dengan Indonesia. Oleh sebab itu PM Australia meminta kepada saya untuk melakukan kegiatan yang mempererat hubungan antara Indonesia dan Australia," ujar Imam Shadi.
![Imam Besar Australia Temui Ketua MPR, Bahas Penguatan Hubungan Indonesia-Australia hingga Peran Persaudaraan Islam]()
Pertemuan tersebut juga membahas pentingnya hubungan antarmasyarakat atau people to people sebagai pelengkap hubungan diplomatik yang telah terjalin selama ini. Persaudaraan antarmasyarakat dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat hubungan kedua negara.
"Hubungan saudara dengan saudara, hubungan saudara seiman itu akan mempererat di antara semua hubungan kita sebagai negara. Meskipun ada perbedaan antara Indonesia dan Australia, kalau hubungan seiman itu erat, persaudaraan akan makin erat dan makin dekat," ujar dia.
Selain itu, pembahasan turut menyinggung sejarah panjang hubungan masyarakat Indonesia dengan penduduk asli Australia. Disebutkan bahwa hubungan masyarakat Makassar dengan penduduk asli Australia telah terjalin jauh sebelum kedatangan Inggris, sehingga menjadi bagian penting dalam sejarah awal hubungan kedua kawasan.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa hubungan masyarakat Indonesia dengan penduduk asli Australia dibangun atas dasar saling menghormati dan penuh persahabatan, yang kemudian menjadi salah satu kebanggaan komunitas Muslim di Australia.
Pertemuan itu juga membahas perkembangan komunitas Muslim di Australia. Saat ini, jumlah Muslim di negara tersebut disebut mencapai sekitar 1,2 juta orang dan sekitar 80 persen di antaranya merupakan warga yang lahir di Australia.
Pembahasan kemudian mengulas berbagai upaya menjaga identitas Islam di Australia, mulai dari pembangunan masjid, pusat kajian Islam, hingga rencana mendirikan universitas Islam.
"Kami sangat serius sekali untuk memastikan menjaga identitas bagi generasi yang akan datang. Alhamdulillah saat ini membangun masjid, membangun pusat-pusat kajian Islam. Tahun depan insya Allah kami akan membuat universitas yang akan melahirkan para imam dan para da'i," ujar dia.
![Imam Besar Australia Temui Ketua MPR, Bahas Penguatan Hubungan Indonesia-Australia hingga Peran Persaudaraan Islam]()
Selain membahas hubungan kedua negara, pertemuan juga menyinggung sejumlah agenda kunjungan di Indonesia, termasuk pertemuan dengan Menteri Agama, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta kunjungan ke International Islamic University Indonesia (UIII) di Depok yang diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan.
Menutup pembahasan, kembali ditekankan bahwa kedekatan geografis Indonesia dan Australia menjadi alasan penting untuk terus menjaga hubungan kedua negara di berbagai bidang.
"Saya kira hubungan Indonesia dengan Australia karena kita adalah negara yang sangat dekat harus terus dijaga hubungan ini antara Indonesia dan Australia," ujar Imam Shadi sembari memohon kepada Ketua MPR untuk bisa berkunjung ke Australia.
Merespon ajakan Imam Shadi, Ketua MPR menyambut dengan senang hati dan akan mencari waktu yang terbaik untuk bisa berkunjung ke Australia. Sebelum meninggalkan ruang pertemuan kedua tokoh saling memberikan cindera mata. Ketua MPR memberikan satu set berbagai jenis teh di Indonesia. Sementara Imam Shadi memberikan cindera mata dari bulu kanguru dan senjata tradisional bernama bumerang.(*)
(lam)