Wakaf 4.0, dari Penerima Manfaat Jadi Wakif
Muhajirin
Kamis, 14 September 2023 - 20:00 WIB
Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia, Prof Mohammad Nuh, dalam Global Waqf Cenference ke-11 di Kampus Istanbul Sabahattin Zaim University, Istanbul, Turki
Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia, Prof Mohammad Nuh, memaparkan paradigma baru wakaf yakni wakaf 4.0. Wakaf tidak sekadar dipandang dari aktivitas mengumpulkan dan menyalurkan dana umat tersebut, tapi berupaya meningkatkan status penerima manfaat menjadi wakif.
Mantan Menteri Pendidikan periode 2009-2014 itu memaparkan kegiatan perwakafan dalam perspektif input-output system terdiri atas aktivitas pengumpulan harta wakaf, pengelolaan harta wakaf, dan penyaluran harta wakaf. Pihak utama yang terlibat dalam proses input-output itu adalah wakif, nazhir, dan penerima manfaat. Namun, nazhir menempati posisi paling sentral di antara mereka.
"Perspektif input-output system perwakafan itu terdiri atas kumpulan harta wakaf, pengelolaan harta wakaf, dan penyaluran manfaat harta wakaf," kata M Nuh saat menjadi pembicara dalam Global Waqf Cenference ke-11 di Kampus Istanbul Sabahattin Zaim University, Istanbul, Turki, dikutip Kamis (14/9/2023).
Sebagai pihak yang menerima amanah harta benda wakaf dari wakif, nazhir seringkali lebih berfokus pada kegiatan meningkatkan jumlah wakif dan harta benda wakaf. Keberhasilan wakaf lebih condong diukur dari besarnya harta benda wakaf yang berhasil dikumpulkan oleh nazhir dari para wakif.
Baca juga:BWI Targetkan Penerimaan Wakaf di 2023 Capai Rp1 Triliun
Adapun proses pengelolaan harta benda wakaf dan kegiatan penyaluran manfaat wakaf seringkali kurang mendapatkan perhatian yang memadai. Maka itu, M Nuh mengajak para nazhir dan semua pegiat wakaf dari berbagai negara untuk menggeser paradigma yang terlalu fokus pada penghimpunan tersebut.
“Paradigma itu saya sebut sebagai wakaf 1.0,” kata M Nuh. Prof. Nuh mengajukan tiga paradigma wakaf baru untuk melengkapi paradigma wakaf 1.0 yang hanya berfokus pada pengumpulan harta benda wakaf.
Mantan Menteri Pendidikan periode 2009-2014 itu memaparkan kegiatan perwakafan dalam perspektif input-output system terdiri atas aktivitas pengumpulan harta wakaf, pengelolaan harta wakaf, dan penyaluran harta wakaf. Pihak utama yang terlibat dalam proses input-output itu adalah wakif, nazhir, dan penerima manfaat. Namun, nazhir menempati posisi paling sentral di antara mereka.
"Perspektif input-output system perwakafan itu terdiri atas kumpulan harta wakaf, pengelolaan harta wakaf, dan penyaluran manfaat harta wakaf," kata M Nuh saat menjadi pembicara dalam Global Waqf Cenference ke-11 di Kampus Istanbul Sabahattin Zaim University, Istanbul, Turki, dikutip Kamis (14/9/2023).
Sebagai pihak yang menerima amanah harta benda wakaf dari wakif, nazhir seringkali lebih berfokus pada kegiatan meningkatkan jumlah wakif dan harta benda wakaf. Keberhasilan wakaf lebih condong diukur dari besarnya harta benda wakaf yang berhasil dikumpulkan oleh nazhir dari para wakif.
Baca juga:BWI Targetkan Penerimaan Wakaf di 2023 Capai Rp1 Triliun
Adapun proses pengelolaan harta benda wakaf dan kegiatan penyaluran manfaat wakaf seringkali kurang mendapatkan perhatian yang memadai. Maka itu, M Nuh mengajak para nazhir dan semua pegiat wakaf dari berbagai negara untuk menggeser paradigma yang terlalu fokus pada penghimpunan tersebut.
“Paradigma itu saya sebut sebagai wakaf 1.0,” kata M Nuh. Prof. Nuh mengajukan tiga paradigma wakaf baru untuk melengkapi paradigma wakaf 1.0 yang hanya berfokus pada pengumpulan harta benda wakaf.