Xin Jinping Bakal Rilis Al-Quran Versi China, Gabungan Islam dan Konghucu
Esti setiyowati
Sabtu, 23 September 2023 - 19:30 WIB
Pemerintah China baru-baru ini berencana membuat Al-Quran versi mereka dengan menggabungkan ajaran Islam dan Konghucu.
Pemerintah China baru-baru ini berencana membuat Al-Quran versi mereka dengan menggabungkan ajaran Islam dan Konghucu.
Seperti diberitakan Radio Free Air, dikutip Sabtu (23/9/2023), Al-Quran versi China tersebut merupakan bagian dari upaya "sinisasi" terhadap Islam.
Sinisasi sendiri diartikan sebagai proses modifikasi sesuatu sesuai dengan budaya China. Upaya sinisasi Islam ini sudah desain sejak 2018.
Pada 2018, Institut Pusat Sosialisme China, bagi dari Kelompok Kerja Front Persatuan Partai Komunis, menyusun 32 poin sinisasi tiga agama monoteistik utama di China, yaitu Protestan, Katolik, dan Islam, yang akan diterapkan selama lima tahun ke depan.
Namun, pada akhir Juli lalu, sejumlah pejabat pemerintah dan akademisi China bertemu di Urumqi untuk membahas penerapan sinisasi Islam di Xinjiang.
Dalam pertemuan tersebut, seperti dilaporkan kantor berita Xinhua, rencana sinisasi Islam belum berjalan signifikan.
"Islam membutuhkan lebih banyak rekayasa," kata mereka.
Seperti diberitakan Radio Free Air, dikutip Sabtu (23/9/2023), Al-Quran versi China tersebut merupakan bagian dari upaya "sinisasi" terhadap Islam.
Sinisasi sendiri diartikan sebagai proses modifikasi sesuatu sesuai dengan budaya China. Upaya sinisasi Islam ini sudah desain sejak 2018.
Pada 2018, Institut Pusat Sosialisme China, bagi dari Kelompok Kerja Front Persatuan Partai Komunis, menyusun 32 poin sinisasi tiga agama monoteistik utama di China, yaitu Protestan, Katolik, dan Islam, yang akan diterapkan selama lima tahun ke depan.
Namun, pada akhir Juli lalu, sejumlah pejabat pemerintah dan akademisi China bertemu di Urumqi untuk membahas penerapan sinisasi Islam di Xinjiang.
Dalam pertemuan tersebut, seperti dilaporkan kantor berita Xinhua, rencana sinisasi Islam belum berjalan signifikan.
"Islam membutuhkan lebih banyak rekayasa," kata mereka.