Gus Baha: Hadapi Wabah Covid-19 dengan Perbanyak Syukur
Muhajirin
Jum'at, 09 Juli 2021 - 12:10 WIB
Membaca Al-Quran setiap saat merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan. Foto: Langit7.id/iStock
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBU), Kiai Haji (KH) Baharuddin Nur Salim (Gus Baha) meminta masyarakat tidak panik dalam menghadapi wabah Covid-19 di Tanah Air. Dia menyebutkan salah satu solusi individual adalah memperbanyak syukur kepada Allah SWT.
Menurutnya, wabah Covid-19 merupakan musibah yang ringan jika dibandingkan dengan kondisi bumi yang memang diciptakan memiliki potensi untuk hancur. Keberadaan meteor di langit dan magma di perut bumi bisa kapanpun menghancurkan tempat tinggal manusia.
Benda langit itu bisa kapan saja bisa jatuh menghantam bumi dan magma serta minyak bisa keluar. "Kita ini memang potensinya rusak. Bumi yang kita tempati ini berpotensi untuk tidak layak. Sehingga untuk menjadi layak, potensinya hanya dengan rahmat Allah," kata Gus Baha dalam acara pembacaan Shalawat Nariyah dan Doa untuk Keselamatan Bangsa secara virtual di TVNU, Kamis (8/7/2021).
Dengan fakta tersebut, kata dia, keadaan yang menimpa manusia tidak lebih buruk dari potensi kerusakan yang bisa terjadi pada bumi. Maka itu, manusia tidak boleh kehilangan harapan pada rahmat Allah SWT. Dengan harapan itu, masalah yang terjadi akan menjadi sebaik-baik ibadah, sehingga seseorang terhindar dari keputusasaan.
"Di sinilah pentingnya kita menjaga harapan kepada rahmat Allah SWT. Saya menyampaikan ini supaya orang menjaga syukur di tengah pandemi, di tengah problem ekonomi dan problem sosial. Karena afdalul ibadah (utamanya ibadah) adalah berharap ada solusi dan jalan keluar," ungkapnya.
Dia menegaskan, Alquran dan Sunnah diturunkan kepada manusia untuk menjadi pengingat dan peringata. Maka itu, sangat penting melihat semua permasalahan hidup berdasarkan nilai-nilai agama.
"Agama sendiri diperuntukkan untuk orang yang selalu punya harapan," ucapnya.
Menurutnya, wabah Covid-19 merupakan musibah yang ringan jika dibandingkan dengan kondisi bumi yang memang diciptakan memiliki potensi untuk hancur. Keberadaan meteor di langit dan magma di perut bumi bisa kapanpun menghancurkan tempat tinggal manusia.
Benda langit itu bisa kapan saja bisa jatuh menghantam bumi dan magma serta minyak bisa keluar. "Kita ini memang potensinya rusak. Bumi yang kita tempati ini berpotensi untuk tidak layak. Sehingga untuk menjadi layak, potensinya hanya dengan rahmat Allah," kata Gus Baha dalam acara pembacaan Shalawat Nariyah dan Doa untuk Keselamatan Bangsa secara virtual di TVNU, Kamis (8/7/2021).
Dengan fakta tersebut, kata dia, keadaan yang menimpa manusia tidak lebih buruk dari potensi kerusakan yang bisa terjadi pada bumi. Maka itu, manusia tidak boleh kehilangan harapan pada rahmat Allah SWT. Dengan harapan itu, masalah yang terjadi akan menjadi sebaik-baik ibadah, sehingga seseorang terhindar dari keputusasaan.
"Di sinilah pentingnya kita menjaga harapan kepada rahmat Allah SWT. Saya menyampaikan ini supaya orang menjaga syukur di tengah pandemi, di tengah problem ekonomi dan problem sosial. Karena afdalul ibadah (utamanya ibadah) adalah berharap ada solusi dan jalan keluar," ungkapnya.
Dia menegaskan, Alquran dan Sunnah diturunkan kepada manusia untuk menjadi pengingat dan peringata. Maka itu, sangat penting melihat semua permasalahan hidup berdasarkan nilai-nilai agama.
"Agama sendiri diperuntukkan untuk orang yang selalu punya harapan," ucapnya.
(asf)