Perjuangan Para Pengungsi Lawan Musim Dingin Gaza
Muhajirin
Jum'at, 24 November 2023 - 17:13 WIB
Perjuangan para pengungsi melawan musim dingin di Gaza.
Para murabith di Jalur Gaza menghadapi perjuangan baru yakni melawan musim dingin. UNWRA menyebut para murabith di Jalur Gaza sebagai pengungsi internal, artinya mereka berkumpul di lokasi pengungsian sayap PBB maupun pengungsian mandiri di beberapa tempat.
Mereka membangun tenda-tenda kecil sebagai tempat berlindung untuk menghindari kejahatan perang teroris Israel yang mengebom rumah penduduk sipil. Mayoritas murabith berangkat ke tempat pengungsian tanpa membawa bekal memadai, termasuk pakaian musim dingin.
Isaad Abdullah, murabith dari Kota Gaza, Jalur Gaza Utara berangkat ke Kota Rafah, ujug selatan Jalur Gaza karena diklaim aman oleh teroris Israel. Naasnya, dia tidak bisa membawa bekal lantaran pengeboman terjadi di mana-mana. Satu-satunya yang dipikirkan Isaad saat itu adalah menyelamatkan keluarga dari ancaman kematian.
“Kami mengungsi selama dua hari dan kami akan kembali, dan sebulan telah berlalu sejak kami mengungsi,” kata Issad dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Kamis (23/11/2023).
Baca juga:Gencatan Senjata Israel-Hamas: Pembebasan Sandera Paling Cepat pada Jumat
Awal mengungsi, Isaad berencana hanya tinggal dua hari saja di Kota Rafah lalu kembali ke Kota Gaza untuk bergabung dengan para murabith di sana. Tapi itu tidak memungkinkan. Perjalanan ke selatan ke utara sama saja menyetor nyawa.
“Tidak terpikir oleh saya bahwa pengungsian kami akan berlangsung selama ini, lebih dari sebulan sejak kami terpaksa meninggalkan rumah kami,” ujarnya.
Mereka membangun tenda-tenda kecil sebagai tempat berlindung untuk menghindari kejahatan perang teroris Israel yang mengebom rumah penduduk sipil. Mayoritas murabith berangkat ke tempat pengungsian tanpa membawa bekal memadai, termasuk pakaian musim dingin.
Isaad Abdullah, murabith dari Kota Gaza, Jalur Gaza Utara berangkat ke Kota Rafah, ujug selatan Jalur Gaza karena diklaim aman oleh teroris Israel. Naasnya, dia tidak bisa membawa bekal lantaran pengeboman terjadi di mana-mana. Satu-satunya yang dipikirkan Isaad saat itu adalah menyelamatkan keluarga dari ancaman kematian.
“Kami mengungsi selama dua hari dan kami akan kembali, dan sebulan telah berlalu sejak kami mengungsi,” kata Issad dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Kamis (23/11/2023).
Baca juga:Gencatan Senjata Israel-Hamas: Pembebasan Sandera Paling Cepat pada Jumat
Awal mengungsi, Isaad berencana hanya tinggal dua hari saja di Kota Rafah lalu kembali ke Kota Gaza untuk bergabung dengan para murabith di sana. Tapi itu tidak memungkinkan. Perjalanan ke selatan ke utara sama saja menyetor nyawa.
“Tidak terpikir oleh saya bahwa pengungsian kami akan berlangsung selama ini, lebih dari sebulan sejak kami terpaksa meninggalkan rumah kami,” ujarnya.