LANGIT7.ID-, Jakarta- - Hamas dan Israel menyepakati perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, Palestina pada Rabu (22/11/2023). Perjanjian itu menyebutkan Israel akan menghentikan semua aksi militer di Gaza selama empat hari dengan imbalan puluhan sandera Israel yang ditawan oleh Hamas sejak 7 Oktober.
Selain itu, perjanjian juga menyepakati izin masuk untuk truk-truk bantuan kemanusiaan dan medis serta bahan bakar ke wilayah tersebut.
Penasihat keamanan nasional Israel Tzachi Hanegbi mengindikasikan pembebasan setidaknya 50 sandera Israel dan asing yang ditahan oleh Hamas sudah sesuai rencana, namun baru akan terjadi paling cepat pada Jumat.
“Kontak mengenai pembebasan sandera kami terus maju dan berlanjut,” katanya dalam sebuah pernyataan, dikutip dari The New Arab, Kamis (23/11/2023).
“Permulaan pelepasan akan dilakukan sesuai dengan kesepakatan awal antara kedua belah pihak, dan tidak sebelum hari Jumat.”
Pejabat Israel kedua mengatakan bahwa penghentian pertempuran juga tidak akan dilakukan pada Kamis, seperti yang diperkirakan.
Penundaan ini merupakan pukulan telak bagi dua juta lebih warga Gaza yang berdoa agar diakhirinya perang dan kehancuran yang telah berlangsung selama 47 hari, yang menewaskan lebih dari 14.000 warga Palestina.
Perjanjian gencatan senjata akan memberikan kelonggaran bagi warga Palestina yang menjadi sasaran kekejaman Israel. Terhitung sejak konflik 7 Oktober lalu, data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat jumlah korban tewas berjumlah 14.128 orang, termasuk 5.840 anak-anak dan 3.920 wanita.
Kesepakatan gencatan senjata ditengahi oleh Qatar, AS, dan Mesir. Perjanjian tersebut diumumkan ketika pertempuran semakin intensif di lingkungan tengah Kota Gaza.
Para pemimpin dunia menyambut baik kesepakatan gencatan senjata tersebut. Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang menegaskan kembali 'seruan untuk penghentian menyeluruh agresi Israel terhadap rakyat Palestina dan masuknya bantuan kemanusiaan'.
(ori)