LANGIT7.ID-, Lebanon -
Israel dan Lebanon telah sepakat untuk menerapkan gencatan senjata. Namun kesepakatan tersebut disebut masih bergantung pada penghentian total serangan dari kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran serta syarat-syarat lainnya.
Demikian diumumkan Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan, melansir
BBC, Kamis (4/6/2026).
Hal ini terjadi setelah serangan Israel menewaskan sedikitnya sembilan orang di Lebanon selatan pada hari Rabu, dan Hizbullah menembakkan roket ke Israel utara, menguji gencatan senjata yang rapuh yang awalnya disepakati pada bulan April.
"Semua negara menegaskan kembali bahwa masa depan hubungan antara Israel dan Lebanon harus diputuskan oleh kedua pemerintah yang berdaulat. Mereka menolak setiap upaya, oleh negara atau aktor non-negara mana pun, untuk menyandera masa depan Lebanon," bunyi pernyataan tersebut.
Kesepakatan itu juga bergantung pada "evakuasi semua anggota (Hezbollah)" dari wilayah yang dikuasai Israel di Lebanon selatan, dari sungai Litani hingga perbatasan.
Baca juga: Iran Ancam Tak Akan Ada Negosiasi dengan AS Jika Israel Tetap Serang Gaza dan LebanonPernyataan itu mengatakan AS akan membantu memandu pembentukan zona percontohan di mana Angkatan Bersenjata Lebanon akan mengambil kendali eksklusif atas wilayah tersebut, dengan mengesampingkan semua aktor non-negara.
Pengumuman ini menyusul gencatan senjata parsial yang disepakati pada hari Senin, yang menurut Lebanon akan membuat Israel menahan diri dari membom Beirut, sebagai imbalan atas tidak diserangnya Hezbollah terhadap Israel.
Kedua negara akan bertemu kembali pada 22 Juni untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut guna mencapai kesepakatan komprehensif. Hezbollah belum memberikan komentar publik terkait pengumuman tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada wartawan sebelum pengumuman tersebut bahwa ia berharap mereka akan menghasilkan "rencana aksi untuk keamanan di (Lebanon), yang independen dari Hizbullah".
Gencatan senjata parsial tersebut diuji oleh tembakan Israel dan Hizbullah minggu ini.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan bahwa korban tewas akibat serangan Israel pada hari Rabu termasuk dua paramedis yang ambulansnya terkena serangan di daerah Chehour selatan. Sebuah mobil juga terkena serangan di selatan ibu kota Beirut.
Sementara itu, militer Israel mengatakan telah mencegat sebuah drone dan dua proyektil yang melintasi perbatasan. Hizbullah mengatakan mereka menargetkan kerumunan pasukan Israel.
Baca juga: Pemerintah Indonesia Kembali Kirim Pasukan Perdamaian ke LebanonSebelum pengumuman pada Rabu malam tadi, para pemimpin Israel telah memperingatkan bahwa militer negara itu akan melanjutkan serangan terhadap benteng Hizbullah di pinggiran selatan Beirut, yang dikenal sebagai Dahieh, jika kelompok tersebut melancarkan serangan lintas batas terhadap komunitas Israel utara.
Menurut pemerintah Lebanon, gencatan senjata parsial yang disepakati pada hari Senin menyatakan bahwa "Israel tidak akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Beirut sebagai imbalan atas penahanan diri Hizbullah dari melancarkan serangan terhadap Israel".
Pro dan Kontra Kesepakatan Gencatan SenjataPemerintah Lebanon mengatakan Hizbullah telah mengkonfirmasi penerimaannya, tetapi seorang anggota dewan politik kelompok tersebut, Mahmoud Qamati, mengatakan kepada BBC pada hari Selasa: "Tidak ada perjanjian gencatan senjata, hanya perlindungan Dahieh."
Qamati juga menegaskan bahwa Hezbollah tidak akan mematuhi komitmen apa pun yang dibuat dalam pembicaraan Lebanon-Israel di Washington.
"Kami pikir negosiasi ini tidak menyangkut kami, dan kami juga tidak mengakui temuan atau keputusan mereka, karena kami telah menolaknya secara prinsip," katanya.
Lebanon terseret ke dalam perang antara AS, Israel, dan Iran pada 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Israel merespons dengan kampanye udara di seluruh Lebanon dan invasi darat di selatan.
Baca juga: OKI Desak Dunia Akhiri Pendudukan Israel, Dorong Palestina Jadi Anggota Penuh PBBHizbullah adalah kelompok politik dan militer Muslim Syiah yang beroperasi di Lebanon dan telah terlibat dalam serangkaian konflik kekerasan dengan Israel. Kelompok ini dianggap sebagai organisasi teroris oleh Israel dan banyak negara lain, termasuk Inggris dan AS.
Gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon pada 16 April gagal menghentikan pertempuran. Kemudian pada pekan lalu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk mengintensifkan serangannya terhadap Hizbullah dan maju lebih dalam ke Lebanon, sebagai tanggapan terhadap serangan drone dan roket terhadap komunitas di Israel utara.
Setidaknya 3.516 orang telah tewas di Lebanon sejak awal perang, menurut kementerian kesehatan negara itu. Angka-angka tersebut tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil.
PBB menyatakan lebih dari satu juta orang juga telah mendaftarkan diri sebagai pengungsi di Lebanon, di mana perintah evakuasi Israel mencakup lebih dari seperdelapan wilayah negara itu.
(lsi)