Memahami Kolonialisme di Palestina, dari Isu Agama hingga Kemanusiaan
Muhajirin
Rabu, 06 Desember 2023 - 23:00 WIB
ilustrasi
Direktur InPAS, Dosen IAI Dalwa Bangil, Kholili Hasib, mengutarakan, ada tiga isu besar dalam persoalan Palestina-Israel yakni agama, penjajahan dan kemanusiaan.
Bagaimana pun peperangan yang terjadi antara Palestina-Israel sejak perang salib sampai saat ini tidak pernah jauh-jauh dari akar keagamaan. Baik Islam, Yahudi maupun Kristen.
Ketika pasukan Inggris baru saja memasuki al-Quds pada perang Salib, panglimaperangnya mengatakan: “Kini telah selesai perang salib”. Sang jenderal Inggris itutegas menyatakan, peperangannya karena agama.
Tetapi, sejak pertama kekerasan terjadi, yaitu pada perang salib sampai pada zaman modern ini, korban paling menyedihkan adalah masyarakat Muslim Al-Quds.
Maka itu, Shalahuddin al-Ayyubi tidak pernah bersedia dengan pendekatanperdamaian abal-abal. Raja Richard Inggris pernah mengajukan perdamaian dengan pasukan Muslimin pada 9 Oktober 1192. Dengan alasan peperangan telahmemakan banyak korban dari kedua pihak, maka raja Inggris itu meminta berdamai.
Tapi yang tidak bisa diterima Shalahuddin adalah Inggris menuntutsesuatu yang telah menjadi milik kaum Muslim. Dalam surat usulan, Richardmeminta Baitul Maqdis dan beberapa daerah di Yordania dikembalikan kepadaInggris, begitu pula sejumlah benteng di sekitar al-Quds, dan kota Asqalan.
“Tetapi, Shalahuddin tetap membolehkan ketiga penganut agama ziarah ke Baitul Maqdis dan pembebasan masing-masing tawanan. Itulah bentuk siasat politik tapi berbasis kepercayaan agama,” kata Kholili dalam pemaparannya di Insists, dikutip Rabu (6/12/2023).
Bagaimana pun peperangan yang terjadi antara Palestina-Israel sejak perang salib sampai saat ini tidak pernah jauh-jauh dari akar keagamaan. Baik Islam, Yahudi maupun Kristen.
Ketika pasukan Inggris baru saja memasuki al-Quds pada perang Salib, panglimaperangnya mengatakan: “Kini telah selesai perang salib”. Sang jenderal Inggris itutegas menyatakan, peperangannya karena agama.
Tetapi, sejak pertama kekerasan terjadi, yaitu pada perang salib sampai pada zaman modern ini, korban paling menyedihkan adalah masyarakat Muslim Al-Quds.
Maka itu, Shalahuddin al-Ayyubi tidak pernah bersedia dengan pendekatanperdamaian abal-abal. Raja Richard Inggris pernah mengajukan perdamaian dengan pasukan Muslimin pada 9 Oktober 1192. Dengan alasan peperangan telahmemakan banyak korban dari kedua pihak, maka raja Inggris itu meminta berdamai.
Tapi yang tidak bisa diterima Shalahuddin adalah Inggris menuntutsesuatu yang telah menjadi milik kaum Muslim. Dalam surat usulan, Richardmeminta Baitul Maqdis dan beberapa daerah di Yordania dikembalikan kepadaInggris, begitu pula sejumlah benteng di sekitar al-Quds, dan kota Asqalan.
“Tetapi, Shalahuddin tetap membolehkan ketiga penganut agama ziarah ke Baitul Maqdis dan pembebasan masing-masing tawanan. Itulah bentuk siasat politik tapi berbasis kepercayaan agama,” kata Kholili dalam pemaparannya di Insists, dikutip Rabu (6/12/2023).