home global news

Debat Capres dan Eksposur Personalitas

Senin, 18 Desember 2023 - 10:00 WIB
ilustrasi
Kembali kepada acara debat pertama capres yang masing menyisakan suasana dan perdebatan publik, khususnya di kalangan masing-masing pendukung. Kali ini yang ingin saya catat adalah bagaimana debat capres itu menjadi ajang penting untuk mengekspor kepribadian dari masing-masing capres. Kepribadian yang dimaksud tentunya mencakup wawasan atau cara pandang terhadap permasalahan-permasalahan bangsa dan negara, pemahaman dan kemampuan mengekspresikan (komunikasi) hingga ke karakter personalitas dari masing-masing calon.

Kita masih ingat bahwa pada saat acara debat itu terjadi “clash” argumen antara para capres, khususnya antara capres nomor urut 1 dan 2. Perbenturan argumentasi itu terjadi ketika Anies yang sesungguhnya tidak bermaksud mengeritik Prabowo, tapi menyampaikan realita di lapangan bahwa indeks demokrasi di Indonesia menurun. Turunnya indeks demokrasi ini ditandai oleh beberapa hal. Dua antaranya adalah terjadinya penyempita kemerdekaan berpendapat dan lemahnya oposisi yang dapat menjadi penyeimbang kekuasaan.

Prabowo yang memang dikenal sebagai sosok yang dulu menjadi rival, kini menjadi “disciple” (murid dan loyalist) Jokowi tidak tega “mentornya” dikritik. Maka diapun merespon dengan dua hal. Satu, mengungkit kembali jasanya yang mencalonkan Anies untuk maju dalam kontestasi Gubernur DKI yang lalu. Dua, menegaskan bahwa jika Jokowi tidak demokratis maka Anies Baswedan tidak terpilih sebagai Gubernur ketika itu.

Baca juga:Anies Baswedan, Talenta Komunikasi dan Ustadz

Anies yang dikenal selalu menjaga kesantunan dan menyampaikan ide dengan bahasa yang lembut, kali ini memberikan jawaban yang saya sebut “straight forward” (langsung dan tegas). Jawaban capres Anies adalah bahwa dalam kehidupan demokrasi oposisi menjadi sangat penting. Sayangnya tidak semua orang tahan berada di posisi oposisi. Anies lalu menambahkan: “dan pak Prabowo tidak tahan jadi oposisi”. Lebih jauh Anies mengulangi apa yang pernah Prabowo sendiri sebutkan bahwa pak Prabowo tidak tahan di luar kekuasaan karena bisnisnya tidak bisa berkembang (tanpa kekuasaan).

Sesungguhnya ketika Prabowo menyebut jasa mencalonkan Anies sebagai calon Gubenur ketika itu adalah hal yang tidak perlu dan dengan sendirinya tidak etis. Karena pencalonan seseorang itu bukan tanpa alasan. Tentu karena prabowo sendiri menilai bahwa Anies punya kelebihan yang dapat ditawarkan kepada masyarakat Jakarta untuk terpilih menjadi Gubernur. Harusnya jika Prabowo memiliki etika tahu bahwa partainya ketika itu memenangkan konstestasi di Jakarta karena pastinya kelebihan yang dimiliki oleh Anies. Apalagi ini bukan ambisi pribadi Anies. Tapi diminta oleh tokoh-tokoh politik ketika itu, termasuk pak JK lewat pak Aksa Mahmud.

Yang lebih mencolok adalah ketika Prabowo seolah mengatakan bahwa kemenangan Anies dikarenakan oleh ketinggian demokrasi yang dijunjung oleh Pemerintahan Jokowi. Di sini jelas bagaimana Prabowo seolah, (maaf) “menjilat” kepada Presiden Jokowi. Sehingga dalam debat capres begitu sering memuji seolah Jokowi adalah dewa penyelamat demokrasi, bangsa dan negara.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
debat capres cawapres pilpres 2024 imam shamsi ali
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya