home global news

Penulis Palestina: Jika Ditakdirkan Syahid, Kisah Kita Harus Tetap Hidup

Jum'at, 22 Desember 2023 - 19:00 WIB
ilustrasi
Ghada Ajeel, seorang profesor tamu asal Palestina di Departemen Ilmu Politik di Universitas Alberta di Kanada, menerbitkan sebuah tulisan di Middle East Eye tentang pembantaian di Jalur Gaza.

“Saat kita menyaksikan tragedi yang terjadi di Gaza, setiap kematian menjadi undangan bagi mereka yang masih hidup untuk menjadi pendongeng, untuk menjadi saksi penderitaan yang melampaui generasi,” demikian Ghada dalam tulisannya, dikutip Middle East Eye, Jumat (22/12/2023).

Ghada menceritakan, Kota Khan Yunis yang awalnya diklaim zona aman oleh militer Israel, kini berubah menjadi tempat pembantaian baru. Khan Yunis menyaksikan pengeboman tiap hari. Bahkan, angkatan laut dan darat Israel melakukan genosida terhadap warga sipil di kota dan kamp pengungsi.

Tak hanya itu, Ghada menceritakan krisis obat-obatan di Jalur Gaza. Obat-obatan dasar di Gaza sudah menjadi barang mewah. Maka tidak perlu berbicara tentang pasien kanker atau gangguan liver, dan pasien yang membutuhkan cuci darah. Ribuan pasien menanti perawatan di sudut halaman rumah sakit tanpa obat-obatan.

Baca juga:Human Rights Watch: Meta Makin Membungkam Pro-Palestina di Instagram dan Facebook

Jumlah korban luka telah meningkat, menurut laporan Kementerian Kesehatan di Gaza, menjadi lebih dari 50.000 orang. Lantaran tidak mendapatkan perawatan yang tepat, mereka menghadapi kematian di lantai dan koridor rumah sakit karena kurangnya obat-obatan.

Sejak awal pembantaian di Jalur Gaza, hanya 400 korban luka atau kurang dari 1% dari total korban luka yang diizinkan keluar negeri untuk mendapatkan perawatan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
palestina syahid konflik palestina israel
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya