home global news

Kerakusan dan Kesemena-semenaan harus Dikalahkan

Sabtu, 03 Februari 2024 - 18:00 WIB
ilustrasi
Imam Shamsi Ali

Sejujurnya saya tidak terlalu banyak kepentingan pribadi lagi dengan Indonesia. Saya telah lama dan nampaknya juga akan memiliki kediaman abadi (pekuburan) di luar negeri. Hanya saja di hati ini ada rasa cinta dan rindu negeri (hubbul wathon) yang selalu mendorong saya untuk memberikan perhatian kepada isu-isu yang terkait dengan Indonesia.

Rasa cinta inilah yang menjadikan saya tetap mengikuti dengan dekat (closely) tapi dari jarak jauh (distance) berbagai situasi yang terjadi di Indonesia. Termasuk situasi politik dan masalah-masalah yang terkait dengan pemilu dan pilpres. Hal yang seringkali dikritisi oleh sebagian. “Sudahlah. Ustadz kan sudah hidup di luar negeri. Ngapain ngurusin lagi Indonesia!”, kata mereka.

Kali ini yang ingin saya tuliskan adalah situasi politik menjelang pemilu (pileg & pilpres) tahun ini. Beberapa hari lalu saya pernah menuliskan bahwa pemilu kali ini, khususnya pilpres, adalah pemilu dan pilpres terburuk dalam sejarah Indonesia. Ternyata keadaan saat ini bukan saja menggambarkan politik dan pilpres yang buruk. Lebih jauh bahkan menjadi ancaman yang nyata bagi kehidupan berbangsa, bernegara dan demokrasi itu sendiri.

Berbagai hal yang menjadi penyebab buruknya pilpres kali ini semuanya merujuk kepada satu hal utama; cawe-cawe dan keberpihakan Presiden kepada paslon tertentu. Keberpihakan dan cawe-cawe Presiden ini telah menimbulkan keresahan, bahkan goncangan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Situasi yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah karena di tengah situasi politik ini dapat menimbulkan ketidak stabilan kehidupan bernegara.

Sesungguhnya itulah yang mulai terjadi saat ini. Berbagai protes terjadi di mana-mana. Dari asosiasi kepala-kepala desa, mahasiswa dan akademisi di universitas-universitàs, kelompok buruh, dan lain-lain. Belum lagi protes-protes yang dilakukan melalui media baik mainstream maupun media sosial. Bahkan begitu banyak rakyat yang sesungguhnya protes tapi hanya mampu mengekspresikan dalam hati alias marah dengan diam.

Runyamnya seluruh perangkat kekuasaan seolah tebal muka dengan semua protes yang terjadi. Ibarat pepatah “biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”. Semua protes itu menjadi suara-suara yang seolah tidak berdaya. Mungkin juga karena penguasa memang sudah mengalami penyakit “shummun, bukmun, ‘umyun” (tuli, bisu, buta) maka mereka tak akan sadar kembali (fahum laa yarji’uun).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
imam shamsi ali rakus
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya