Din Syamsuddin: Ramadhan Tak Berarti Puasa Amar Makruf Nahi Mungkar
Tim langit 7
Senin, 11 Maret 2024 - 06:00 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2015 Prof Dr M Din Syamsuddin
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2015 Prof Dr M Din Syamsuddin mengatakan, dalam ibadah Ramadhan umat Islam tidak semestinya berpuasa melakukan amar makruf nahi mungkar, menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran.
Din Syamsuddin menjelaskan makna dan hikmah bulan suci Ramadhan sebagai bulan ibadah dan bulan riyadhah (pelatihan kerohanian). Menurutnya, ibadah-ibadah Ramadhan merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain.
Maka kesemuanya perlu ditunaikan secara menyeluruh, yakni baik puasa di siang hari, mau shalat Tarawih di malam hari, dan amaliah-amaliah Ramadhan lainnya seperti tadarus atau tadabur al-Qur’an, iktikaf, hingga memberi zakat fitrah ataupun zakat mal.
Baca juga:PBNU: 1 Ramadhan 1445 H Jatuh Selasa 12 Maret 2024
Kesemuanya, lanjut mantan Ketua Umum MUI itu, berfungsi ganda yakni penyucian diri (tazkiyatun nafsi), dan penguatan diri (taqwiyatun nafsi). “Jika dikerjakan dengan sesungguhnya maka seorang hamba akan tampil dengan fitrah kemanusiaan sejati,” kata dia.
Di akhir ceramahnya, Din Syamsuddin, memesankan jamaah Muhammadiyah dan umat Islam untuk tidak terjebak pada pertentangan apalagi permusuhan akibat berbeda pilihan politik pada Pemilu dan Pilpres 2024 yang lalu.
“Janganlah karena berbeda partai politik atau paslon presiden dan wakil presiden kita merusak silaturahmi dan ukhuwah Islamiah,” tegasnya, dalam keterangan tertulis kepada PWMU.CO, Kamis malam.
Din Syamsuddin menjelaskan makna dan hikmah bulan suci Ramadhan sebagai bulan ibadah dan bulan riyadhah (pelatihan kerohanian). Menurutnya, ibadah-ibadah Ramadhan merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain.
Maka kesemuanya perlu ditunaikan secara menyeluruh, yakni baik puasa di siang hari, mau shalat Tarawih di malam hari, dan amaliah-amaliah Ramadhan lainnya seperti tadarus atau tadabur al-Qur’an, iktikaf, hingga memberi zakat fitrah ataupun zakat mal.
Baca juga:PBNU: 1 Ramadhan 1445 H Jatuh Selasa 12 Maret 2024
Kesemuanya, lanjut mantan Ketua Umum MUI itu, berfungsi ganda yakni penyucian diri (tazkiyatun nafsi), dan penguatan diri (taqwiyatun nafsi). “Jika dikerjakan dengan sesungguhnya maka seorang hamba akan tampil dengan fitrah kemanusiaan sejati,” kata dia.
Di akhir ceramahnya, Din Syamsuddin, memesankan jamaah Muhammadiyah dan umat Islam untuk tidak terjebak pada pertentangan apalagi permusuhan akibat berbeda pilihan politik pada Pemilu dan Pilpres 2024 yang lalu.
“Janganlah karena berbeda partai politik atau paslon presiden dan wakil presiden kita merusak silaturahmi dan ukhuwah Islamiah,” tegasnya, dalam keterangan tertulis kepada PWMU.CO, Kamis malam.