home global news

Jenderal Tadulako: Diasuh Akademi Militer, Diasah Tradisi Intelektual

Selasa, 12 Maret 2024 - 06:00 WIB
Mayor Jenderal TNI Farid Makruf.
Pulau Sulawesi disamakan dengan laba-laba yang berbaring di air. Lengannya adalah semenanjung utara dan timur laut. Sedang kakinya dibentuk oleh kedua semenanjung selatan. Bentuknya pun mengingatkan pada sosok pria tanpa kepala.

Begitu Albertus Christiaan Kruyt (1869–1949), seorang misionaris, etnografer, dan teolog Calvinis Belanda dan Nicolaas Adriani (1865–1926), seorang teolog, penginjil dan linguist menggambarkan Sulawesi saat mereka datangi pada awal 1900-an. Keduanya menuliskan hal itu dalam De Bare'e-sprekende Torajas van Midden Celebes, Volume I yang terbit di Batavia pada 1912.

Dan tersebutlah Tadulakoe (mengikuti ejaan Van Ophuijsen) dalam catatan-catatan mereka. Tadulako sendiri secara umum bagi masyarakat Sulawesi Tengah diartikan secara harafiah sebagai pemimpin. Pemimpin dalam semua hal; keagamaan, pemerintahan, bala tentara dan lain-lain.

Lalu muncul tanya; “Siapa, bagaimana dan di mana Tadulako?”

Baca juga:Cerita Jenderal Bintang Dua Anak Pedagang Kelontong Jadi Kaskostrad

Ini mengusik pikiran Mayor Jenderal TNI Farid Makruf, MA, semasa menjadi Danrem 132/Tadulako. Kepala Staf Kostrad ini membatin; “Adakah Tadulako sesosok orang, adakah dia sebatas konsepsi atau nilai-nilai, atau hal-hal lainnya.”

Bersama Tim Ekspedisi Tadulako, ia menelusuri beberapa tapak yang memungkinkannya mendapatkan jawaban soal itu. Mulai dari tapak arkeologis di Lembah Megalit Behoa hingga ke kuburan sosok para pemberani yang kepada mereka disematkan julukan Tadulako. Jawabannya mulai terkuak satu demi satu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
jenderal tadulako akademi militer
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya