LANGIT7.ID-Purwakarta; Kementerian Agama mendorong transformasi besar peran penyuluh agama Islam agar tidak terjebak pada aktivitas seremonial semata. Di tengah gempuran nilai luar dan pergeseran pola hidup masyarakat, penyuluh dituntut beralih menjadi penggerak perubahan yang mampu menghadirkan solusi nyata atas persoalan akhlak dan tantangan zaman.
Hal tersebut ditegaskan Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam, Muchlis M. Hanafi, dalam kegiatan Implementasi Regulasi Kepenyuluhan, di Aula Fatimah Azzahra MAN Purwakarta, Kamis (16/4). Giat ini diikuti 215 penyuluh dari Kabupaten Purwakarta dan Subang.
Muchlis menekankan bahwa keberhasilan dakwah saat ini tidak lagi diukur dari padatnya jadwal pengajian, melainkan dari sejauh mana kehadiran penyuluh mampu menekan angka penyakit sosial. “Ukuran keberhasilan dakwah bukan pada banyaknya kegiatan, tetapi pada sejauh mana dakwah mampu menghadirkan perubahan nyata dalam akhlak masyarakat. Dakwah harus bergerak menuju aspek substansial yang membentuk kualitas kehidupan umat,” tegas Muchlis dalam keterangan resmi, Jumat (17/6/2026).
Menjaga Akar di Tengah Arus PerubahanMuchlis menggambarkan Purwakarta dan Subang sebagai wilayah dengan identitas budaya Sunda dan nilai agraris-pesisir yang kuat. Namun, ia memperingatkan bahwa perubahan zaman membawa risiko pergeseran tradisi yang serius. Mengutip QS. Ibrahim: 24, ia mengibaratkan masyarakat sebagai pohon; jika akarnya tercerabut, maka jati dirinya akan hilang.
“Peran penyuluh adalah memastikan akar nilai itu tidak tercabut, melainkan justru tumbuh menguat. Agama dan budaya tidak untuk dipertentangkan, melainkan disandingkan guna menghadirkan kebaikan universal (
al-khair) yang dikemas dalam bentuk yang diterima masyarakat (
al-ma’ruf),” imbuhnya.
Menembus Ruang DigitalSecara khusus, Muchlis menyoroti kerentanan generasi muda yang kini hidup di dua dunia: nyata dan digital. Ia mengingatkan bahwa jika penyuluh hanya terpaku pada metode konvensional, mereka akan kehilangan relevansi di mata generasi baru yang lebih banyak menyerap informasi dari internet.
“Generasi muda hari ini belajar agama dari genggaman tangan mereka. Kalau kita tidak hadir di ruang digital, maka kita akan ditinggalkan. Kita harus masuk ke sana untuk membentengi mereka dari konten kekerasan, pornografi, hingga fenomena pelecehan seksual yang belakangan marak di lingkungan pendidikan,” jelasnya lagi.
Penyuluh kini dituntut untuk mampu memahami bahasa milenial dan Gen-Z, hadir sebagai tempat bertanya yang dipercaya, dan tidak sekadar menjadi figur yang hanya muncul saat ceramah formal.
Kegiatan yang juga dihadiri oleh jajaran Kanwil Kemenag Jawa Barat dan Kemenag Purwakarta ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Kementerian Agama dalam memperkuat kapasitas penyuluh agar lebih adaptif, kontekstual, dan memberikan dampak konkret bagi ketahanan moral masyarakat.
(lam)