LANGIT7.ID-Jakarta; Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menekankan bahwa pembentukan Majelis Masyayikh bukan sekadar pemenuhan amanat undang-undang, melainkan menjadi langkah konkret untuk melakukan transformasi fundamental di lingkungan pesantren.
Dalam arahannya, Sekjen menegaskan bahwa Majelis Masyayikh memiliki posisi yang sangat strategis sebagai institusi penjamin mutu yang bersifat distinktif. Lembaga ini diharapkan menjadi motor penggerak yang mampu melahirkan ikon-ikon baru dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia.
"Majelis Masyayikh adalah institusi yang sakral dan sangat decisif dalam mengawal kualitas pendidikan pesantren. Kita butuh lembaga ini untuk memikirkan transformasi fundamental yang akan menjadi ikon bagi pesantren kita ke depan," ujar Sekjen, pada acara Penyusunan Juknis Majelis Masyayikh Pesantren dalam keterangannya, dikutip Selasa (12/5/2026).
Sekjen menjelaskan bahwa proses transformasi ini memerlukan perpaduan antara landasan ide yang kuat dan pengalaman praktik yang telah teruji. Anggota Majelis Masyayikh diharapkan bukan hanya mereka yang memiliki pengetahuan teoretis, tetapi juga tokoh-tokoh yang sudah berkhidmat dan memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola ekosistem pesantren.
"Kita tidak hanya butuh pengetahuan, tapi butuh pengalaman praktik. Kita berharap Majelis ini terdiri dari orang-orang yang benar-benar punya visi, komitmen, dan kenyataan dalam mengawal pesantren," imbuhnya.
Lebih lanjut, Sekjen mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam transformasi ini bukan terletak pada penyusunan konsep, melainkan pada strategi implementasi. Sekjen mendorong agar juknis yang disusun mampu menjembatani konsep ideal dengan praktik di lapangan agar kemanfaatannya dirasakan secara luas.
"Biasanya kita punya konsep bagus, tapi strategi implementasinya lemah sehingga tidak maksimal kemanfaatannya. Mari kita jadikan pesantren ini sebagai
game changer dan
the most powerful enabler untuk membentuk karakter bangsa," tegasnya.
Sekjen optimis dengan masa depan pesantren di bawah kawalan Majelis Masyayikh. Dengan banyaknya jumlah ulama, kiai, dan tokoh pesantren yang berkompeten, transformasi fundamental ini diyakini akan membawa pendidikan pesantren ke level yang lebih tinggi tanpa kehilangan jati dirinya.
"Saya selalu optimis karena kita memiliki banyak tokoh dan ulama yang sudah punya pengalaman panjang dan siap berkhidmat untuk kemajuan pesantren kita ke depan," pungkasnya.
(lam)