LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masyarakat modern tidak lagi dapat dikelola dengan pendekatan suka atau tidak suka. Menurutnya, kemajuan hanya dapat dicapai apabila tata kelola dibangun di atas meritokrasi, profesionalisme, dan keadilan.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri peluncuran Gerakan Wakaf Pegawai Bank Indonesia yang dirangkaikan dengan tausiyah "Muharram Murobbi" di Masjid Jami' Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jakarta.
"Merit operation itu sangat penting. Dalam masyarakat makro, tidak bisa lagi menggunakan pendekatan like and dislike. Yang harus dikedepankan adalah meritokrasi, profesionalisme, dan keadilan," tegas Menag saat menghadiri acara di Jakarta, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi, Kamis (25/6/2026).
Menurut Menag, momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana hijrah, tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kelembagaan.
Ia menjelaskan bahwa salah satu pesan utama hijrah Nabi Muhammad SAW adalah transformasi masyarakat dari berbagai ikatan primordial menuju masyarakat umat yang lebih inklusif, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
"Kalau kita ingin cepat berkembang, mari kita hijrah dari konsep primordialisme menuju konsep umat. Masyarakat umat adalah masyarakat yang dibangun di atas nilai cinta kasih, visi bersama, dan orientasi kemajuan," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Nasaruddin Umar juga memberikan apresiasi terhadap peluncuran Gerakan Wakaf Pegawai BI. Menurutnya, inisiatif tersebut menunjukkan semakin kuatnya kesadaran kolektif untuk menjadikan wakaf sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.
Ia menilai wakaf tidak hanya memiliki dimensi ibadah, tetapi juga berperan sebagai instrumen strategis dalam membangun kesejahteraan, memperkuat solidaritas sosial, serta mendorong kemajuan peradaban umat.
"Wakaf bukan sekadar amal sosial, tetapi bagian dari pembangunan peradaban. Wakaf memiliki daya transformasi yang sangat besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ketahanan sosial umat," ujarnya.
Peluncuran Gerakan Wakaf Pegawai BI ditandai dengan penyerahan bibit tanaman asam jawa secara simbolis dari Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo kepada Menteri Agama. Penyerahan tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk menumbuhkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, sejalan dengan filosofi wakaf yang manfaatnya terus mengalir lintas generasi.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional. Menurutnya, wakaf memiliki potensi besar dalam mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
"Program wakaf ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari penguatan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia," kata Perry.
Ia menambahkan Bank Indonesia selama ini terus mendorong berbagai program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk melalui penguatan instrumen sosial syariah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Lebih lanjut, Menag menekankan bahwa pemimpin harus mampu menghadirkan optimisme dan harapan di tengah masyarakat. Menurutnya, kepemimpinan yang baik akan melahirkan masyarakat yang kuat dan tangguh.
"Pemimpin harus menjadi imam yang mampu menghadirkan ketenangan, harapan, dan optimisme. Kepemimpinan yang baik akan melahirkan masyarakat yang kuat dan tangguh," ungkapnya.
Menag juga mengingatkan bahwa hakikat hijrah adalah proses perbaikan yang berkelanjutan. Karena itu, setiap individu maupun institusi perlu terus melakukan evaluasi dan pembaruan agar mampu menjawab tantangan zaman.
"Kalau kehidupan hari ini lebih baik daripada kemarin, itulah hakikat hijrah. Grafik kehidupan boleh naik turun, tetapi secara umum harus terus bergerak naik menuju kemajuan," tandasnya.
Melalui Gerakan Wakaf Pegawai BI, Menag berharap semangat filantropi Islam semakin mengakar di lingkungan masyarakat maupun institusi negara sehingga wakaf dapat menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi syariah dan pemberdayaan umat di Indonesia.
(lam)