MUI Jajaki Kerja Sama dengan Institut Muhammad VI Maroko
Tim langit 7
Senin, 29 April 2024 - 09:00 WIB
MUI dipimpin Sekjen MUI Buya Dr Amirsyah Tambunan mengunjungi lembaga penting untuk pendidikan calon imam, dai, dan kaderisasi ulama, yakni Institut Muhammad VI di Rabat.
Majelis Ulama Indonesia yang dipimpin Sekjen MUI Buya Dr Amirsyah Tambunan mengunjungi lembaga penting untuk pendidikan calon imam, dai, dan kaderisasi ulama, yakni Institut Muhammad VI di Rabat, Jumat (26/4/2024).
Delegasi MUI yang berjumlah 32 orang bersama Dubes RI untuk Maroko dan Mauritania YM Hasrul Azwar disambut dan diterima langsung oleh Direktur Institut Syekh Abdus Salam Al-A'zar dan wakilnya Syekh Abdul Hamid.
Dalam kesempatan tersebut rombongan MUI diajak untuk meninjau langsung fasilitas pendidikan yang dimiliki institut Muhammad VI.
Lembaga pendidikan ini berada di bawah Kementerian Waqaf dan Agama Islam Maroko yang didirikan dan diresmikan Raja Muhamad 6 pada Maret 2015 untuk mempersiapkan dai, mubalig, dan imam bersertifikasi yang akan diterjunkan secara langsung sebagai pegawai negeri di berbagai masjid di seluruh Maroko.
Baca juga:Indonesia dan Arab Saudi Sinergi Saling Pengakuan Standar Halal
Sebagai perbandingan, di Indonesia ada program pendidikan profesi guru atau dokter, di Maroko lembaga ini dapat dikatakan sebagai program profesi dai.
Program tersebut berlangsung selama satu tahun bagi dai-dai terpilih saja yang berusia 35-45 tahun, memiliki hapalan Alquran 30 juz secara mutqin dan pemahaman Islam yang komprehensif, serta telah memiliki ijazah S1 bidang keagamaan.
Delegasi MUI yang berjumlah 32 orang bersama Dubes RI untuk Maroko dan Mauritania YM Hasrul Azwar disambut dan diterima langsung oleh Direktur Institut Syekh Abdus Salam Al-A'zar dan wakilnya Syekh Abdul Hamid.
Dalam kesempatan tersebut rombongan MUI diajak untuk meninjau langsung fasilitas pendidikan yang dimiliki institut Muhammad VI.
Lembaga pendidikan ini berada di bawah Kementerian Waqaf dan Agama Islam Maroko yang didirikan dan diresmikan Raja Muhamad 6 pada Maret 2015 untuk mempersiapkan dai, mubalig, dan imam bersertifikasi yang akan diterjunkan secara langsung sebagai pegawai negeri di berbagai masjid di seluruh Maroko.
Baca juga:Indonesia dan Arab Saudi Sinergi Saling Pengakuan Standar Halal
Sebagai perbandingan, di Indonesia ada program pendidikan profesi guru atau dokter, di Maroko lembaga ini dapat dikatakan sebagai program profesi dai.
Program tersebut berlangsung selama satu tahun bagi dai-dai terpilih saja yang berusia 35-45 tahun, memiliki hapalan Alquran 30 juz secara mutqin dan pemahaman Islam yang komprehensif, serta telah memiliki ijazah S1 bidang keagamaan.