home masjid

Pengertian Hari Tasyrik, Amalan dan Larangannya

Rabu, 12 Juni 2024 - 20:00 WIB
ilustrasi
Sering mendengar kata hari tasyrik pada bulan Dzulhijjah tapi tidak paham betul apa yang dimaksud hari tasyrik? Serta amalan apa yang baik dilakukan dan larangan apa yang sebaiknya tidak dilakukan di hari tasyrik. Yuk simak penjelasan berikut ini.

Melansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), hari tasyrik merupakan tiga hari setelah Idul Adha (10 Dzulhijjah) yang jatuh pada tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah berdasarkan kalender Hijriah. Ketiga hari tersebut merupakan rangkaian penting dalam Islam dan berlangsung tepat setelah Hari Raya Idul Adha.

Tasyrik atau tasyriq berasal dari bahasa Arab yang merupakan serapan dari kata "syaraqa" yang memiliki makna "matahari terbit" atau "menjemur sesuatu".

Baca juga:Bolehkah Berkurban Satu Nama untuk Sekeluarga?

Dari Nubaisyah Al Hudzali, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim no. 1141).

Dasar lainnya mengenai hari tasyrik seperti dikatakan Imam Nawawi rahimahullah, “Hari tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha. Disebut hari tasyrik karena tasyrik itu berarti mendendeng atau menjemur daging qurban di terik matahari. Dalam hadist disebutkan, hari tasyrik adalah hari untuk memperbanyak dzikir yaitu takbir dan lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 18).

Jika hari tasyrik disebut hari makan dan minum berarti ketika itu tidak dibolehkan untuk berpuasa apapun di hari-hari tersebut (11, 12, 13 Dzulhijjah). Inilah pendapat yang dikuatkan dalam madzhab Syafi’i.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
idul adha hari tasyrik amalan larangan
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya