Mengenang Munir sebagai Aktivis Islam
Fajar adhitya
Rabu, 08 September 2021 - 20:01 WIB
Aktivis HAM Munir Said Thalib Alkatiri (foto: istimewa)
Munir Said Thalib Al Katiri dikenal sebagai Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM). Akibatperjuangannya, ia sampai diracun di udara, dalam perjalanannya menuju Belanda. Namun tak hanya dikenal sebagai aktivis HAM, Munir juga merupakan aktivis Islam.
Munir pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Al Irsyad Al Islamiyyah cabang Malang pada 1988, dan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Munir berasal dari keluarga muslim taat dan besar di lingkungan keluarga keturunan arab yang aktif di Al Irsyad Al Islamiyyah. Leluhurnya merupakan imigran dari Hadramaut, Yaman. Namun, karena interaksinya lekat dengan buruh, aktivis hak asasi manusia, Munir Said Thalib sempat merasakan cap sebagai kaum kiri, sosialis, dan anti-Islam.
Munir dengan kerja-kerja kemanusiaan di bidang HAM membuat tuduhan anti-Islam mentah. Cendekiawan Muslim, Ahmad Syafi’i Ma’arif bahkan menyebut Munir sebagai Duta Universalitas Islam.
“Munir adalah duta Islam yang memperjuangkan universalitas Islam untuk penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan (rahmatan lil ‘alamin),” tulis Syafi’i Maarif dalam Bunuh Munir!: Sebuah Buku Putih (2006) yang diterbitkan KontraS.
Munir, tulis Syafi’i Ma’arif melakukan pembelaan terhadap siapapun yang tertindas, tanpa memandang latar belakang mereka. Di dalam Munir, Islam secara arif dapat dijadikan sandaran yang terpercaya bagi kelompok-kelompok yang ditindas dan dipinggirkan.
Tiga hari setelah Munir wafat karena diracun, Al Irsyad Al Islamiyah merilis pernyataan dan meminta semua pihak yang berkaitan dengan kasus Munir untuk bersikap jujur dan transparan dalam penyelesaian secara tuntas masalah tersebut.
Munir pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Al Irsyad Al Islamiyyah cabang Malang pada 1988, dan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Munir berasal dari keluarga muslim taat dan besar di lingkungan keluarga keturunan arab yang aktif di Al Irsyad Al Islamiyyah. Leluhurnya merupakan imigran dari Hadramaut, Yaman. Namun, karena interaksinya lekat dengan buruh, aktivis hak asasi manusia, Munir Said Thalib sempat merasakan cap sebagai kaum kiri, sosialis, dan anti-Islam.
Munir dengan kerja-kerja kemanusiaan di bidang HAM membuat tuduhan anti-Islam mentah. Cendekiawan Muslim, Ahmad Syafi’i Ma’arif bahkan menyebut Munir sebagai Duta Universalitas Islam.
“Munir adalah duta Islam yang memperjuangkan universalitas Islam untuk penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan (rahmatan lil ‘alamin),” tulis Syafi’i Maarif dalam Bunuh Munir!: Sebuah Buku Putih (2006) yang diterbitkan KontraS.
Munir, tulis Syafi’i Ma’arif melakukan pembelaan terhadap siapapun yang tertindas, tanpa memandang latar belakang mereka. Di dalam Munir, Islam secara arif dapat dijadikan sandaran yang terpercaya bagi kelompok-kelompok yang ditindas dan dipinggirkan.
Tiga hari setelah Munir wafat karena diracun, Al Irsyad Al Islamiyah merilis pernyataan dan meminta semua pihak yang berkaitan dengan kasus Munir untuk bersikap jujur dan transparan dalam penyelesaian secara tuntas masalah tersebut.