LANGIT7.ID - Munir Said Thalib Al Katiri dikenal sebagai Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM).
Akibat perjuangannya, ia sampai diracun di udara, dalam perjalanannya menuju Belanda. Namun tak hanya dikenal sebagai aktivis HAM, Munir juga merupakan aktivis Islam.
Munir pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Al Irsyad Al Islamiyyah cabang Malang pada 1988, dan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Munir berasal dari keluarga muslim taat dan besar di lingkungan keluarga keturunan arab yang aktif di Al Irsyad Al Islamiyyah. Leluhurnya merupakan imigran dari Hadramaut, Yaman. Namun, karena interaksinya lekat dengan buruh, aktivis hak asasi manusia, Munir Said Thalib sempat merasakan cap sebagai kaum kiri, sosialis, dan anti-Islam.
Munir dengan kerja-kerja kemanusiaan di bidang HAM membuat tuduhan anti-Islam mentah. Cendekiawan Muslim, Ahmad Syafi’i Ma’arif bahkan menyebut Munir sebagai Duta Universalitas Islam.
“Munir adalah duta Islam yang memperjuangkan universalitas Islam untuk penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan (rahmatan lil ‘alamin),” tulis Syafi’i Maarif dalam Bunuh Munir!: Sebuah Buku Putih (2006) yang diterbitkan KontraS.
Munir, tulis Syafi’i Ma’arif melakukan pembelaan terhadap siapapun yang tertindas, tanpa memandang latar belakang mereka. Di dalam Munir, Islam secara arif dapat dijadikan sandaran yang terpercaya bagi kelompok-kelompok yang ditindas dan dipinggirkan.
Tiga hari setelah Munir wafat karena diracun, Al Irsyad Al Islamiyah merilis pernyataan dan meminta semua pihak yang berkaitan dengan kasus Munir untuk bersikap jujur dan transparan dalam penyelesaian secara tuntas masalah tersebut.
Kesaksian Munir sebagai pribadi muslim yang shalih juga diungkapkan rekannya ketika di HMI, Hussein Anis. Pengakuan ini menjadi bukti Munir tidak anti-Islam.
"Dulu, buruh kalau mau shalat Jumat harus menunggu
shift atau giliran kerja. Munir memperjuangkan agar itu diubah," kata Hussein di kanal YouTube Wathcdoc Documentary.
Saat aktif sebagai Ketua Senat Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, Munir mengirim delegasi untuk mengikuti seminar tentang Palestina di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.
Adik kelas Munir di Universitas Brawijaya, Deddy Prihambudi, merasa tindakan tersebut merupakan bentuk kepedulian munir terhadap isu-isu keislaman. Saat itu, seminar tersebut juga dihadiri imam Masjid Al Aqsha.
Pernah pada suatu pengajian di sebuah masjid, Munir mengatakan bahwa Islam hadir untuk menyejahterakan umat. Ia menegaskan bahwa Islam bukan agama yang mengajarkan ummatnya untuk bersikap pasrah dengan keadaan.
“Islam itu kan membuat orang menjadi tidak kufur. Memerangi kekufuran, agar orang tidak kufur adalah memerangi kemiskinan. Supaya orangnya tidak miskin, bukan orang miskinnya yang diperangi.
Tidak benar Islam itu membuat bapak-bapak hanya ya sudah, ini takdir kita jadi miskin. Mari berdoa dan terus pulang lagi tidur lagi dan tidak melawan apa-apa. Itu bukan Islam,” katanya.
Sikap Munir yang mendorong perlawanan umat Islam terhadap kemiskinan relatif yang terjadi karena pembangunan atau kemiskinan struktural akibat ketidakadilan diakui aktivis pemuda Al Irsyad, Geisz Chalifah melansir KBR.
Geisz mengatakan, Munir adalah pendiri Al Irsyad cabang Batu, Malang. Pemikiran Munir soal keislaman dimanifestasikan lewat tindakannya membela kaum lemah.
"Sesuai dengan ajaran Islam, Kefakiran sangat dekat dengan kekufuran," ujar Geisz.
Selasa, 7 September 17 tahun yang lalu, Munir Said Thalib wafat. Ia melepaskan nafas terakhir di atas pesawat Garuda GA-794 kursi 40 G. Munir sedang melakukan perjalanan dari Jakarta ke Belanda dalam rangka meneruskan studi ke Universitas Utrecht.
Tahun ini, September masih kelam. Kasus pembunuhan Munir masih gelap.
(jqf)