home global news

Pekerja Indonesia di Perkebunan Buah Inggris Dipulangkan Semua Karena Metik Buah Lambat

Senin, 22 Juli 2024 - 20:50 WIB
Pekerja Indonesia di Perkebunan Buah Inggris Dipulangkan Semua Karena Metik Buah Lambat
LANGIT7.ID-London; Nasib pekerja Indonesia di perkebunan Inggris sungguh mengenaskan. Jauh jauh datang dari Indonesia, dengan biaya yang sangat besar untuk bisa bekerja di Inggris, eh, malah bernasib sial.

Para pekerja Indonesia yang baru bekerja beberapa minggu di perkebunan buah itu, secara sepihak dipulangkan oleh pemilik perkebunan karena mereka tidak memiliki ketrampilan memetik buah dengan cepat. Yang menyebabkan pemilik kebunnya marah karena, targetnya untuk bisa memasok buah ke beberapa supermarket besar di Inggris gagal.

Salah satu pekerja mengatakan, untuk bisa berangkat ke Inggris, dia telah menjual tanah keluarganya, serta sepeda motor miliknya dan milik orang tuanya, untuk menutupi biaya lebih dari £2.000(35 jt). Dia datang ke Inggris pada bulan Mei karena di Indonesia tertekan karena dirinya menganggur.

Pengawas eksploitasi tenaga kerja sedang menyelidiki tuduhan bahwa ia adalah salah satu dari beberapa pekerja yang dikenakan biaya ilegal hingga £1.100(19 jt) oleh sebuah organisasi di Indonesia yang mengklaim bahwa hal itu akan membawa mereka ke Inggris lebih cepat.

Di Indonesia, pekerja tersebut memperoleh penghasilan sekitar £100 sebulan dengan menjual makanan dan mengatakan bahwa orang tuanya “sangat kecewa” karena ia telah menjual segalanya dengan alasan pergi ke Inggris demi membantu keluarganya. Dia berkata: “Saya merasa bingung, marah, dan marah dengan situasi ini. Saya tidak punya pekerjaan di Indonesia [dan] saya sudah menghabiskan seluruh uang saya untuk datang ke Inggris.”

The Guardian seperti dilansir langit7.id, telah berbicara dengan empat pekerja yang dipecat dan dalam tiga kasus terlihat bukti pembayaran biaya nyata kepada pihak ketiga selain lebih dari £1.000 (18-19 jt) yang ditransfer untuk penerbangan dan visa kepada perekrut berlisensi.

Tuduhan pembayaran pungutan liar di Indonesia menimbulkan pertanyaan mengenai risiko eksploitasi dalam skema pekerja musiman, yang memungkinkan pekerja dari luar negeri mendapatkan visa enam bulan untuk bekerja di pertanian namun membuat mereka menanggung semua risiko finansial.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya