LANGIT7.ID-, Jakarta - - Ungkapan
"In This Economy" kini marak digunakan untuk menggambarkan himpitan ekonomi yang tengah dihadapi sebagian masyarakat. Istilah ini kemudian membawa pada
fenomena downgrading atau pilihan mengonsumsi barang dan layanan yang lebih murah.
Fenomena ini dapat dilihat dari perubahan pola konsumsi sepeti mengganti kendaraan ke tipe yang lebih murah, beralih ke produk dengan harga terjangkau, hingga mengurangi rekreasi ke luar rumah.
Menanggapi fenomena ini, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM, Wisnu Setiadi Nugroho menyebut
downgrading merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, dan bukan pilihan gaya hidup semata.
Baca juga: Hampir Berusia 5 Abad, Indramayu Siap Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi“Downgrading atau dikenal juga sebagai
sachetization, downsizing ini saya lihat sebagai respons rasional
rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup,” ujar Wisnu seperti dikutip dari laman UGM, Kamis (8/10/2026).
Menurut Wisnu, dalam teori ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai
consumption smoothing, yakni upaya rumah tangga menjaga konsumsi inti tetap relatif stabil dengan mengorbankan konsumsi yang lebih fleksibel.
Artinya, lanjut Wisnu, penyesuaian yang dilakukan masyarakat saat ini bukan karena ingin berhemat, melainkan ruang pilihan dalam mengatur pengeluaran kian terbatas.
Dalam pandangannya, persoalan utama bukan terletak pada praktik
downgrading, melainkan pada skala dan kelompok masyarakat yang melakukannya. Apabila hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat, penyesuaian tersebut masih dapat dipandang sebagai hal yang bersifat sementara.
“Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Wisnu melihat adanya dua faktor yang saling memperkuat terjadinya
downgrading. Pertama, pendapatan riil yang stagnan di tengah kenaikan harga kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan energi.
Kondisi tersebut, sambungnya, membuat kemampuan belanja riil rumah tangga menyusut meskipun pendapatan nominal tidak mengalami perubahan.
Baca juga: OJK Dorong ASN Batang jadi Bagian dari Pertumbuhan EKonomi Melalui Pasar ModalFaktor lain yaitu ekspektasi ekonomi yang menurun. Menurut Wisnu, masyarakat saat ini tengah menahan konsumsi bukan hanya karena kemampuan keuangan yang berkurang, tetapi karena ada kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang, termasuk keamanan pekerjaan.
Akibatnya, pola belanja yang sebelumnya bersifat rutin berubah menjadi lebih menahan.
“Dua faktor ini terlihat jelas di pola
trade down yang terjadi, yakni perpindahan dari merek premium ke merek ekonomis, serta maraknya pasar barang bekas. Pola ini menunjukkan bahwa anggaran belanja riil masyarakat memang menyusut, bukan sekadar berhemat temporer menjelang satu momen tertentu,” ungkapnya.
Akan tetapi, kata Wisnu, fenomena downgrading ini tidak semuanya menunjukkan penuruan kesejahteraan. Menurutnya, penyesuaian konsumsi dapat terjadi secara wajar ketika kebutuhan rumah tangga berubah.
Sebaliknya,
downgrading menjadi tanda tekanan ekonomi ketika rumah tangga usia produktif harus menurunkan kualitas konsumsi karena keterbatasan anggaran.
“Yang tidak wajar adalah ketika downgrading terjadi pada individu atau rumah tangga yang komposisinya masih utuh dan berada di usia produktif. Di situ downgrading bukan lagi soal preferensi yang berubah, melainkan dipaksa oleh keterbatasan anggaran,” jelasnya.
Wisnu menegaskan, tekanan daya beli yang berlangsung lama bisa berdampak pada perekonomian secara keseluruhan. Saat masyarakat mengurangi belanja, aktivitas perdagangan dan jasa ikut melambat. Kondisi ini bisa membuat pelaku usaha menunda ekspansi dan perekrutan tenaga kerja.
Baca juga: Di Tengah Meningkatnya Tekanan Perekonomian Global, Stabilitas Sektor Jasa Keuangan TerjagaTerlebih jika masyarakat mulai berutang jangka pendek atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Ketika rumah tangga sampai menjual aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, ya itu juga tanda bahwa bantalan keuangan mereka sudah habis. Bukan lagi soal mengatur ulang prioritas belanja, tapi soal bertahan hidup,” tutupnya.
(est)