LANGIT7.ID-, Jakarta - - Fenomena
panas ekstrem kini telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Kenaikan suhunya bahkan bisa meningkatkan risiko
gangguan kesehatan, termasuk
heat stroke atau serangan panas.
Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Aditya Lia Ramadona, Ph.D., menjelaskan bahwa
heat stroke merupakan bentuk gangguan kesehatan paling berat akibat paparan panas.
"Secara sederhana, ini terjadi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu. Intinya, suhu tubuh naik cepat, mekanisme pendinginan seperti berkeringat tidak lagi efektif, lalu terjadi gangguan fungsi organ dan otak," jelas
Ramadona, dikutip Senin (13/7/2026).
Baca juga: Hati-Hati Heat Stroke saat Armuzna, Kenali Gejala dan Cara PencegahannyaLebih lanjut ia mengungkapkan sejumlah gejala dari
heat stroke, yakni suhu tubuh yang sangat tinggi, kebingungan, bicara tidak jelas, kejang, hingga kehilangan kesadaran. Jika tidak mendapatkan pertolongan segera, kondisi tersebut dapat berakibat fatal.
Meski begitu, Ramadona melihat kesadaran masyarakat akan bahaya
heat stroke masih rendah. Menurutnya, hal tersebut dipengaruhi anggapan bahwa cuaca panas merupakan hal yang biasa karena Indonesia beriklim tropis.
Padahal, perubahan suhu yang tampak kecil dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukannya di Yogyakarta, kenaikan suhu rata-rata mingguan sebesar 1 derajat Celsius berkorelasi dengan peningkatan 15,5 persen kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer.
Selain itu, istilah heat stroke juga belum banyak dikenal masyarakat. Banyak orang lebih familiar dengan dehidrasi, kelelahan, atau pingsan akibat cuaca panas dibandingkan heat stroke.
Paparan Panas Terjadi hingga di Dalam RumahAncaman panas ekstrem ternyata tidak hanya dialami saat beraktivitas di luar ruangan. Ramadona mengungkapkan hasil penelitian mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM yang menemukan bahwa suhu di dalam rumah lansia di sejumlah lokasi Program Kampung Iklim (ProKlim) DIY justru lebih tinggi dibandingkan suhu yang dicatat stasiun BMKG.
Baca juga: Hindari Heat Stroke, Jemaah Haji Disarankan Banyak Minum Air PutihRata-rata suhu di dalam rumah mencapai 31 derajat Celsius. Bahkan, setiap kenaikan selisih suhu dalam dan luar rumah sebesar 1 derajat Celsius meningkatkan risiko heat stress pada lansia hingga sekitar 32 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan suhu udara luar saja belum cukup untuk menggambarkan tingkat paparan panas yang benar-benar dialami masyarakat.
Perlu Dukungan KebijakanMenurut Ramadona, menghadapi dampak panas ekstrem tidak cukup hanya mengandalkan perubahan perilaku individu. Masyarakat memang dianjurkan untuk mencukupi kebutuhan cairan, mengenakan pakaian yang ringan, menghindari aktivitas berat pada siang hari, mencari tempat teduh, serta mengenali gejala awal heat stress.
Namun, upaya tersebut harus dibarengi kebijakan yang mendukung, seperti penyediaan ruang hijau, kualitas hunian yang lebih baik, akses terhadap air minum, sistem pelayanan kesehatan yang siap, hingga perlindungan bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Sejumlah penelitian di Program Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM juga menunjukkan bahwa kenaikan suhu berkaitan dengan meningkatnya kunjungan pasien hipertensi, diabetes melitus tipe 2, hingga gangguan kecemasan. Hal ini menandakan bahwa dampak panas ekstrem tidak hanya menyerang kelompok tertentu, tetapi memengaruhi kesehatan masyarakat secara luas.
Indonesia Perlu Sistem Peringatan DiniRamadona menilai Indonesia sudah saatnya memiliki sistem peringatan dini dan pedoman nasional mengenai panas ekstrem. Menurutnya, sistem tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah karena ambang risiko panas di Jakarta, Yogyakarta, Makassar, Kupang, Medan, maupun wilayah dataran tinggi tentu berbeda.
Baca juga: Rompi Penurun Suhu Kemenkes untuk Jemaah Haji Heat Stroke"Sistem peringatan dini sebaiknya tidak hanya menggunakan suhu absolut, tetapi juga mempertimbangkan kelembapan, suhu malam, efek urban heat island, kerentanan penduduk, dan kapasitas layanan kesehatan,” terangnya
Sistem peringatan dini juga tidak cukup hanya menyampaikan informasi suhu udara, tetapi harus disertai tingkat risiko dan langkah yang perlu dilakukan, mulai dari edukasi masyarakat, penyesuaian jam sekolah dan jam kerja, kesiapan fasilitas kesehatan, hingga perlindungan bagi pekerja luar ruangan.
Bagi pekerja yang beraktivitas di bawah terik matahari, langkah yang disarankan antara lain mengatur jam kerja pada pagi atau sore hari, menyediakan waktu istirahat di tempat teduh, memastikan ketersediaan air minum dan elektrolit, serta menerapkan sistem saling mengawasi untuk mengenali gejala heat stroke sejak dini.
Sementara itu, kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penyandang penyakit kronis memerlukan perhatian lebih melalui edukasi, pemantauan kesehatan, peningkatan ventilasi rumah, serta penyediaan ruang teduh di lingkungan sekitar.
Ramadona menegaskan bahwa masyarakat memang perlu menyesuaikan pola aktivitas dengan meningkatnya kejadian panas ekstrem. Namun, adaptasi tersebut harus didukung oleh kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
"Panas ekstrem bukan lagi sekadar cuaca yang tidak nyaman, melainkan telah menjadi isu kesehatan masyarakat dan ketahanan sosial," pungkasnya.
(est)