LANGIT7.ID-Mayoritas mutlak bentuk usaha dalam perekonomian kita adalah ekonomi tradisional atau ekonomi rakyat yang meliputi 90 persen bentuk usaha yang ada. Usaha rakyat ini sebagian besar berskala mikro dengan bekerja sendiriran atau mempekerjakan keluarga tak dibayar terkadang dibantu tenaga tidak tetap.
Struktur atasnya yang 10 persen berbentuk lebih maju mulai memperkerjakan tenaga dibayar. Dan puncaknya adalah ekonomi formal atau modern yang menggunakan organisasi bisnis, berijin formal, juga membayar pajak.
Usaha rakyat tersebut terbesar di pertanian dan hampir seimbang di perdagangan akomodasi dan makanan. Sub sektor makanan terutama warung makan sangat padat di kota kota.
Sektor makanan ini merupakan usaha subsisten di luar pertanian yang sudah sangat padat karena pertumbuhan yang sangat tinggi, rupanya membuka warung dan kafe adalah jalan mengadu keberuntungan di tengah persaingan yang makin ketat.
Kepadatan restoran dan warung makan di Indonesia di berbagai kota terbilang tidak normal. Tidak ditemukan di berbagai negara sepadat itu. Hal tersebut sebenarnya menggambarkan kesulitan masuk di sektor lain dan menyebabkan penumpukan residual.
Bidang transportasi khususnya OJOL juga merupakan penampakan residual yang menonjol. Pekerja transportasi berjumlah sekitar 8 jutaan dan OJOL merupakan yang menonjol dan mudah terorganisir menjadi kerumunan.
Usaha usaha rakyat ini makin hari makin padat seiring dengan kesulitan lapangan kerja yang baik dan di puncak puncak piramida yang merupakan lowongan langka dan pilihan.
Lapisan lapisan usaha ini membentuk hubungan usaha dan pembagian hasil produksi nasional yang kurang seimbang. Membentuk dua wajah ekonomi dan kemajuan yang memerlukan kearifan pemahaman. Para elite bangsa di puncak puncak piramida ekonomi, politik, sosial, dan bahkan pemimpin keagamaan harus membaca keadaan ini dan tidak membuat policy sembarangan, bahkan tidak boleh meremehkan, melakukan flexing, menggusur tanpa pengganti yang lebih baik, dan seterusnya dan seterusnya.
Begitu pun dalam soal kebijakan pemerintah yang sedang proses menumbuhkan MBG makan bergisi gratis. Alih alih memperhatikan warung warung yang sudah over, malah membangun cluster sendiri. Ini sebenarnya juga bentuk ketidak perdulian. Mestinya dengan arif memahami dan kesempatan melibatkan. Misalnya sekali lagi dengan menurunkan kapasitas dapur sampai dengan ratusan saja. Sehingga warung warung rakyat yang sedang collapse sekarang ini banyak tertolong. Mengapa ada kenduri nasioanl besar besaran berupa MBG dengan anggaran puncak pesta 400 T kedepan sengaja tidak mengundang tetangga anda ? Apa kata tetangga anda ? Perlu disusun kebijakan dengan arif bijaksana mengertilah keadaan bangsa. (Ketua Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)