Mudah Lupa dan Susah Hafal Al-Qur’an? Ternyata Ada Hikmahnya
Muhajirin
Kamis, 09 September 2021 - 11:58 WIB
ilustrasi para santri sedang belajar dan menghafal Al-Quran (foto: langit7.id/istock)
Lupa merupakan suatu kewajaran bagi manusia. Demikian pula dalam menghafalkan Al-Qur’an. Namun lupa juga menyimpan hikmah besar dari Allah Ta’ala.
Pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustadz Adi Hidayat (UAH), mengatakan, sifat hafal dan lupa merupakan fitrah kehidupan. Lupa merupakan bagian dari anugerah dari Allah Ta’ala untuk meringankan beban manusia.
“Jika anda ingat mulai lahir hingga sekarang, tidak bisa tidur anda. Berat bebannya. Maka itu, beberapa bagian tertentu diberikan anugerah lupa, untuk memberikan keringan dalam kehidupan kita,” kata UAH melalui kanal youtube Adi Hidayat Official, Kamis (9/9/2021).
Selain itu, ada lupa dalam konteks tertentu untuk menambah pahala. Dia mencontohkan saat seseorang berupaya menghafal Al-Qur’an. Ada kondisi orang tidak bermaksiat, ikhtiar menghafal sudah maksimal, tahajud rutin, namun tetap susah menghafal Al-Qur’an.
“Itu ternyata bagian dari rahmat Allah Ta’ala, di antaranya untuk memberikan tambahan pahala dengan mengulang ayat yang dia usahakan untuk dia hafal,” kata UAH.
Menurut UAH, ukuran hafalan Al-Qur’an bukan dari jumlah ayat atau juz yang dihafal, namun berapa banyak ikhtiar untuk menghadirkan ayat-ayat Allah ke dalam jiwa.
Hafalan Al-Qur’an diukur berdasarkan kemampuan usaha seseorang. Allah menilai ikhtiar seseorang, bukan jumlah juz yang dihafal. Jika pahala hanya berdasar pada juz yang telah dihafal, maka itu sama saja rugi. Allah sangat adil menjadikan ikhtiar manusia sebagai ukuran pemberian pahala.
Pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustadz Adi Hidayat (UAH), mengatakan, sifat hafal dan lupa merupakan fitrah kehidupan. Lupa merupakan bagian dari anugerah dari Allah Ta’ala untuk meringankan beban manusia.
“Jika anda ingat mulai lahir hingga sekarang, tidak bisa tidur anda. Berat bebannya. Maka itu, beberapa bagian tertentu diberikan anugerah lupa, untuk memberikan keringan dalam kehidupan kita,” kata UAH melalui kanal youtube Adi Hidayat Official, Kamis (9/9/2021).
Selain itu, ada lupa dalam konteks tertentu untuk menambah pahala. Dia mencontohkan saat seseorang berupaya menghafal Al-Qur’an. Ada kondisi orang tidak bermaksiat, ikhtiar menghafal sudah maksimal, tahajud rutin, namun tetap susah menghafal Al-Qur’an.
“Itu ternyata bagian dari rahmat Allah Ta’ala, di antaranya untuk memberikan tambahan pahala dengan mengulang ayat yang dia usahakan untuk dia hafal,” kata UAH.
Menurut UAH, ukuran hafalan Al-Qur’an bukan dari jumlah ayat atau juz yang dihafal, namun berapa banyak ikhtiar untuk menghadirkan ayat-ayat Allah ke dalam jiwa.
Hafalan Al-Qur’an diukur berdasarkan kemampuan usaha seseorang. Allah menilai ikhtiar seseorang, bukan jumlah juz yang dihafal. Jika pahala hanya berdasar pada juz yang telah dihafal, maka itu sama saja rugi. Allah sangat adil menjadikan ikhtiar manusia sebagai ukuran pemberian pahala.