home sosok muslim

Telpon Dari Laizhou

Rabu, 07 Agustus 2024 - 06:49 WIB
Telpon Dari Laizhou
Nurkhamid Alfi

LANGIT7.ID-Kira-kira tiga bulan lalu. Di rumah Bekasi pagi hari. Di sela-sela hujan turun lebat, saya memperoleh telpon dari teman lama yang dulunya adalah penterjemah saya ketika masih bekerja di China Gold Mining Corporation (CGMC).Namanya Zhang Xiang Gou. Saat ini dia berganti nama menjadi Michael Zhang. Hal yang biasa dilakukan bagi orang China yang bersinggungan dengan orang asing.

Zhang adalah anak pejabat Partai Komunis pada distrik Laizhou yang fasih berbahasa inggris. Dia lulusan Mechanical Engineering pada Tsinghua University. Saat ini Tsinghua University masuk di peringkat terbaik ke-12 dunia.Dalam pembicaraannya, Zhang dengan bangga mengabarkan jika anaknya baru dipromosikan menjadi pejabat tingkat menengah di sebuah BUMN di Beijing.Dia juga mengundang saya dan istri untuk bernostalgia. Tentu, datang menyaksikan Laizhou baru. Laizhou yang sangat maju: masyarakat yang berteknologi paling canggih di dunia.

Seperti di kota-kota China lainnya, transaksi sudah tidak bisa lagi memakai uang kertas atau koin. Semuanya dilakukan dengan transaksi elektronik. Pun di pasar tradisional. Tidak bisa.Banyak kegiatan transaksi dilakukan melalui robot dengan sistem Artificial Intelligence (AI). Membeli barang di minimarket tanpa pelayan. Tidak ada kasir.

Dulu, saya dan Zhang bekerja bersama membangun pabrik minyak goreng sawit di Laizhou-Jinan, Propinsi Shandong. Saya sendiri Perwakilan dari Bakrie Group yang berkongsi dengan CGMC.Proyek itu dilaksanakan di tahun 1994.Pada tahun itu, saya tidak melihat mobil-mobil bagus di jalanan. Transportasi umum juga sangat parah dengan bis-bis yang knalpot-nya berasap kotor. Orang-orang hanya berkendara sepeda. Kadang-kadang saja ada sepeda motor.Itu keseharian yang saya lihat di tahun 1994.

Begitu pun terjadi di Beijing. Ibukota negara RR China. Dulu masih bernama Peking. Kejorokannya hampir sama. Bahkan banyak tempat di pojok-pojok kota berbau 'tinja'. Toilet-toilet umum di layanan publik seperti Terminal Pengisian BBM tidak berlubang sehingga "tinja" berserakan dimana-mana. Ini disengaja karena kotoran itu seminggu sekali dikumpulkan sebagai pupuk.

China dulunya memang negara miskin dan kotor.Setelah merdeka tahun 1949, Mao Zedong menerapkan sistem pemerintahan komunis-tertutup. Sistem ekonominya anti-kapitalisme. Ekonomi negara dibangun dengan basis pertanian. Kebebasan rakyatnya dipasung.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya