Cerita Haru 4 Dekade Pondok Umul Mukminin dengan Santri Lansianya
Lusi mahgriefie
Kamis, 08 Agustus 2024 - 06:00 WIB
Beberapa santri Pondok Lansia Umul Mukminin .
Berawal dari rasa tidak tega melihat banyaknya perempuan lanjut usia (lansia) yang ditelantarkan dan dibuang oleh anak serta keluarga, Bayu Nunung (69) berinisiatif menampung nenek-nenek itu di rumah miliknya.
Para lansia tidak hanya ditampung, diberi tempat tinggal, dan diberi makan saja melainkan diajari mengaji juga bercocok tanam di kebun milik pribadi Nunung, yang kesehariannya sebagai guru sekolah dasar di Serang.
“Berdiri Pondok Lansia Umul Mukminin ini pada 1982. Awalnya ibu saya merasa, harus membantu para lansia ini khususnya di bidang kesehatan dan mencari ilmu, serta bagaimana caranya lansia ini mau belajar mengaji,” ungkap anak Nunung, Lia Amalia Aruzzi saat ditemui beberapa waktu lalu.
Menengok ke belakang, katanya, tujuan awal pondok ini yaitu menampung nenek-nenek yang sakit tapi tidak ada biaya untuk berobat. “Di pondok (lansia) sakit diobati, dibikin senang, makan dijamin jadi tidak usah jadi pengemis atau utang tetangga. Sebelumnya kalau mereka sakit malah berantem sama anak, mau ke Puskesmas jauh kira-kira 5 Km.”
Para santri lansia berkumpul untuk belajar mengaji bersama, itulah niat Nunung semula. Awalnya Ia hanya mengajar ngaji khusus anak-anak, hingga suatu hari muncul gagasan untuk mengajar para lansia. Tak mudah memang, namun dengan “iming-iming” boleh berutang akhirnya rencananya terwujud.
“Lansia ini kebanyakan dari keluarga tidak mampu. Mereka sering pinjam uang ke ibu saya, sampai suatu hari ibu saya bilang, ‘kalau pinjam uang tapi tidak mengaji bagaimana?’ Jadi sejak itu dibikin aturan mereka boleh meminjam uang asal mengaji,” tambah Lia yang juga berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam di SMAN 101 Joglo, Jakarta.
Santri lansia di pondok yang beralamat di Jalan Raya Ciomas, Serang ini tak hanya terdiri dari warga kampung setempat melainkan dari berbagai wilayah. Kebanyakan dari mereka memiliki cerita haru tentang bagaimana mereka bisa sampai di pondok itu, bukan malah berkumpul bersama anak-cucu di masa tuanya.
Para lansia tidak hanya ditampung, diberi tempat tinggal, dan diberi makan saja melainkan diajari mengaji juga bercocok tanam di kebun milik pribadi Nunung, yang kesehariannya sebagai guru sekolah dasar di Serang.
“Berdiri Pondok Lansia Umul Mukminin ini pada 1982. Awalnya ibu saya merasa, harus membantu para lansia ini khususnya di bidang kesehatan dan mencari ilmu, serta bagaimana caranya lansia ini mau belajar mengaji,” ungkap anak Nunung, Lia Amalia Aruzzi saat ditemui beberapa waktu lalu.
Menengok ke belakang, katanya, tujuan awal pondok ini yaitu menampung nenek-nenek yang sakit tapi tidak ada biaya untuk berobat. “Di pondok (lansia) sakit diobati, dibikin senang, makan dijamin jadi tidak usah jadi pengemis atau utang tetangga. Sebelumnya kalau mereka sakit malah berantem sama anak, mau ke Puskesmas jauh kira-kira 5 Km.”
Para santri lansia berkumpul untuk belajar mengaji bersama, itulah niat Nunung semula. Awalnya Ia hanya mengajar ngaji khusus anak-anak, hingga suatu hari muncul gagasan untuk mengajar para lansia. Tak mudah memang, namun dengan “iming-iming” boleh berutang akhirnya rencananya terwujud.
“Lansia ini kebanyakan dari keluarga tidak mampu. Mereka sering pinjam uang ke ibu saya, sampai suatu hari ibu saya bilang, ‘kalau pinjam uang tapi tidak mengaji bagaimana?’ Jadi sejak itu dibikin aturan mereka boleh meminjam uang asal mengaji,” tambah Lia yang juga berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam di SMAN 101 Joglo, Jakarta.
Santri lansia di pondok yang beralamat di Jalan Raya Ciomas, Serang ini tak hanya terdiri dari warga kampung setempat melainkan dari berbagai wilayah. Kebanyakan dari mereka memiliki cerita haru tentang bagaimana mereka bisa sampai di pondok itu, bukan malah berkumpul bersama anak-cucu di masa tuanya.