LANGIT7.ID-, Jakarta- - Berawal dari rasa tidak tega melihat banyaknya perempuan lanjut usia (lansia) yang ditelantarkan dan dibuang oleh anak serta keluarga, Bayu Nunung (69) berinisiatif menampung nenek-nenek itu di rumah miliknya.
Para lansia tidak hanya ditampung, diberi tempat tinggal, dan diberi makan saja melainkan diajari mengaji juga bercocok tanam di kebun milik pribadi Nunung, yang kesehariannya sebagai guru sekolah dasar di Serang.
“Berdiri Pondok Lansia Umul Mukminin ini pada 1982. Awalnya ibu saya merasa, harus membantu para lansia ini khususnya di bidang kesehatan dan mencari ilmu, serta bagaimana caranya lansia ini mau belajar mengaji,” ungkap anak Nunung, Lia Amalia Aruzzi saat ditemui beberapa waktu lalu.
Menengok ke belakang, katanya, tujuan awal pondok ini yaitu menampung nenek-nenek yang sakit tapi tidak ada biaya untuk berobat. “Di pondok (lansia) sakit diobati, dibikin senang, makan dijamin jadi tidak usah jadi pengemis atau utang tetangga. Sebelumnya kalau mereka sakit malah berantem sama anak, mau ke Puskesmas jauh kira-kira 5 Km.”
Para santri lansia berkumpul untuk belajar mengaji bersama, itulah niat Nunung semula. Awalnya Ia hanya mengajar ngaji khusus anak-anak, hingga suatu hari muncul gagasan untuk mengajar para lansia. Tak mudah memang, namun dengan “iming-iming” boleh berutang akhirnya rencananya terwujud.
“Lansia ini kebanyakan dari keluarga tidak mampu. Mereka sering pinjam uang ke ibu saya, sampai suatu hari ibu saya bilang, ‘kalau pinjam uang tapi tidak mengaji bagaimana?’ Jadi sejak itu dibikin aturan mereka boleh meminjam uang asal mengaji,” tambah Lia yang juga berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam di SMAN 101 Joglo, Jakarta.
Santri lansia di pondok yang beralamat di Jalan Raya Ciomas, Serang ini tak hanya terdiri dari warga kampung setempat melainkan dari berbagai wilayah. Kebanyakan dari mereka memiliki cerita haru tentang bagaimana mereka bisa sampai di pondok itu, bukan malah berkumpul bersama anak-cucu di masa tuanya.
“Mereka ‘dibuang’ oleh anak dan keluarga. Kebanyakan mereka kesulitan dalam hal ekonomi. Ada yang sering berantem dengan anak-menantu, diusir, ada lansia yang tidak punya tempat tinggal lagi, ada yang sengaja ‘dibuang’ di jalan, dan ada juga yang dikejar-kejar laki-laki yang mau menikahi. Juga ada yang sengaja bergabung karena ingin punya waktu belajar mengaji, sebab kalau di rumah selalu diminta urus cucu,” jelasnya.
Lebih lanjut wanita yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua MGMP DKI Wilayah 2 ini menambahkan, selama berada di pondok, santri lansia disibukkan dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti belajar mengaji dan tadarus setiap hari serta aktivitas fisik yaitu bercocok tanam.
Para santri lansia bersama-sama menanam sayur-sayuran seperti sawi, labu siam, singkong dan pisang di lahan milik Nunung. Nantinya hasil kebun dikonsumsi bersama. Sedangkan beras berasal dari sawah pribadi Nunung yang digarap orang lain dengan hitungan bagi hasil.
Bersama-sama para lansia berkumpul untuk belajar mengaji, bersosialisasi, beraktivitas, dan juga mengerjakan pekerjaan rumah ternyata membuat mereka sehat. Hingga kini total ada 32 lansia di pondok tersebut.
Sebagai selingan dan sekadar untuk “refreshing”, tiap dua pekan sekali santri lansia diajak jalan-jalan. Beramai-ramai pergi dengan menyewa angkutan kota, mereka mengunjungi tempat-tempat wisata yang tak jauh dari pondok.
Santri lansia menghabiskan sisa usia mereka di pondok tersebut, hingga saat mereka meninggal dunia pun pondok telah menyiapkan tanah makam untuk mereka.
Tak ada biaya yang dikenakan untuk para santri lansia, semuanya gratis. Semua kebutuhan, biaya sehari-hari untuk berkegiatan maupun segala macamnya ditanggung oleh Nunung beserta anak-anaknya.
Meski begitu Pondok Lansia Umul Mukminin tidak menutup kesempatan bagi siapapun yang mau berdonasi. Tidak melulu dalam bentuk uang, bisa juga makanan, bahan makanan dan kebutuhan lainnya
(ori)