home wisata halal

Venesia, Kota Tua yang Tetap Mempesona

Kamis, 15 Agustus 2024 - 14:27 WIB
Venesia, Kota Tua yang Tetap Mempesona
DR Mahli Zainuddin Tago

LANGIT7.ID-Venesia; Trondheim, Kamis 1 Agustus 2024. Tepat pukul 06.30 kami keluar rumah di Jalan Stokkbekken 132. Ini hari terakhir kami di Norwegia setelah 23 hari mengunjungi keluarga di negeri dingin dekat Kutub Utara ini. Tetapi kami belum lagi berpisah. Mereka masih membawa kami berkeliling sebelum kembali ke tanah air. Sungguh sebuah perjalanan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Eropa terlalu jauh bagi kami. Dari segi biaya hampir sama dengan ibadah haji. Dari segi jarak mendekati dua kali perjalanan ke Tanah Haram. Tetapi taqdir Ilahi menentukan lain. Anak menantu kami berada di Norwegia dan kami kecipratan nasib baik mereka. Setahun yang lalu kami dibawa ke Belanda dan Perancis. Tetapi setelah itu kami pulang lagi ke Norwegia sebelum pulang ke tanah air. Kali ini kami dibawa ke Italia dan Swiss. Dari Swiss mereka balik ke Norwegia dan kami pulang ke tanah air.



Destinasi pertama kami di Italia adalah Venesia. Venesia ( bahasa Italia: Venezia) adalah kota tua. Kota ini didirikan oleh penduduk-penduduk dari daerah Veneto sebagai tempat perlindungan dari invasi barbar ketika Kekaisaran Romawi Barat jatuh. Republik Venesia berdiri di kota ini dari abad ke-9 hingga ke-18. Selama Abad Pertengahan Venesia berkembang menjadi kota komersial yang penting. Venesia pernah dianeksasi oleh Napoleon Prancis. Kemudian berpindah tangan beberapa kali, menjadi bagian dari Austria dua kali, sebelum menjadi bagian dari Italia. Kini ia ibu kota daerah Veneto dan Provinsi Venezia di Italia. Venesia adalah tujuan wisata yang sangat populer, menjadi pusat budaya utama, dan berkali-kali dinobatkan sebagai kota terindah di dunia. Kota kanal ini terkenal dengan sarana transportasi air, di antaranya adalah Gondola.

Perjalanan pertama ke Italia bagiku memunculkan kekhawatiran tertentu. Ini juga aku alami ketika perjalanan pertama ke Perancis setahun lalu. Saat itu kerusuhan besar menyebabkan beberapa kawasan di Paris memberlakukan jam malam. Kekhawatiran di Italia lebih karena kesan umum Italia yang brangasan. Nampaknya aku terpengaruh oleh gaya sepakbola Italia. Aku juga suka menonton filem terkait Mafia seperti God Father, Irish Man, dan Good Fellas. Semua menggambarkan karakter orang Italia yang sering menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Apalagi di Venesia kami harus menyeret empat koper berat. Dua diantaranya berisi bawaan ke tanah air. Maka ketika landing di Bandara Venesia kewaspadaanku meningkat. Apalagi ketika turun dari bis dari bandara di terminal. Rasanya seperti berada di Terminal Pulo Gadung atau Terminal Rajabasa pada era 1980-an.



Tetapi suasana segera berubah ketika kami menyeberang di atas jembatan cantik. Jembatan dipenuhi ratusan turis yang datang dan pergi. Mereka nampak berasal dari berbagai belahan dunia. Sebagian mereka juga membawa koper yang sama dengan kami. Jadi ada banyak teman senasib. Termasuk nasib mengangkat koper-koper berat melalui jembatan yang dibuat dengan banyak anak tangga. Apalagi kemudian hujan tiba-tiba turun. Segera setelah sampai di seberang kenyamanan kembali menghampiri kami. Stigma Italia sebagai negeri mafia lenyap seiring dengan banyaknya turis yang hilir mudik sambil tertawa ria. Lalu di seberang jembatan ada ruang terbuka di bawah gedung yang membuat kami bisa rehat sejenak.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya