Bayi Terpapar Konflik Rumah Tangga Rentan Terkena Stres, Benarkah?
Esti setiyowati
Senin, 19 Agustus 2024 - 18:00 WIB
ilustrasi
Beberapa kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) baru-baru ini viral di media sosial. Belum lama ini publik dikejutkan dengan berita kekerasan yang menimpa selebgram, Cut Intan Nabila yang dianiaya suaminya, Armor Toreador.
Melalui rekaman kamera CCTV, terlihat Armor menyiksa Cut Intan secara membabi buta. Bahkan di tengah amukannya pada Cut Nabila itu, Armor Toreador tak sengaja menendang bayi mereka yang baru berusia satu bulan.
Bukan baru kali ini saja kasus KDRT menyeret korban atau saksi anak-anak. Aksi kekerasan tentunya menimbulkan trauma tersendiri, terlebih bagi anak-anak.
Dokter spesialis anak, dr Kurniawan Satria Denta mengatakan kasus-kasus KDRT yang menempatkan anak-anak yang terlibat atau berada di tengah keributan membawa efek bagi otak dan mental si anak.
"Concern saya dari kasus tersebut, atau kasus-kasus KDRT lainnya yang kebetulan ada bayi yang terlibat atau berada di sekitar keributan tersebut, bukan lah hanya soal cedera atau trauma fisik semata, melainkan efeknya terhadap otak dan mental bayi tersebut," kata dr Denta dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (19/8/2024).
Berdasarkan penelitian, bayi sudah dapat merasakan stres ketika mendengar atau melihat orang tua bertengkar. Dr Denta menekankan, situasi ini bisa berdampak negatif pada perkembangan otak dan mental si bayi.
"Bayi yang sering terpapar konflik keluarga menunjukkan respons stres yang lebih tinggi, termasuk peningkatan aktivitas di bagian otak yang terkait dengan pengelolaan emosi dan stres," jelasnya.
Melalui rekaman kamera CCTV, terlihat Armor menyiksa Cut Intan secara membabi buta. Bahkan di tengah amukannya pada Cut Nabila itu, Armor Toreador tak sengaja menendang bayi mereka yang baru berusia satu bulan.
Bukan baru kali ini saja kasus KDRT menyeret korban atau saksi anak-anak. Aksi kekerasan tentunya menimbulkan trauma tersendiri, terlebih bagi anak-anak.
Dokter spesialis anak, dr Kurniawan Satria Denta mengatakan kasus-kasus KDRT yang menempatkan anak-anak yang terlibat atau berada di tengah keributan membawa efek bagi otak dan mental si anak.
"Concern saya dari kasus tersebut, atau kasus-kasus KDRT lainnya yang kebetulan ada bayi yang terlibat atau berada di sekitar keributan tersebut, bukan lah hanya soal cedera atau trauma fisik semata, melainkan efeknya terhadap otak dan mental bayi tersebut," kata dr Denta dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (19/8/2024).
Berdasarkan penelitian, bayi sudah dapat merasakan stres ketika mendengar atau melihat orang tua bertengkar. Dr Denta menekankan, situasi ini bisa berdampak negatif pada perkembangan otak dan mental si bayi.
"Bayi yang sering terpapar konflik keluarga menunjukkan respons stres yang lebih tinggi, termasuk peningkatan aktivitas di bagian otak yang terkait dengan pengelolaan emosi dan stres," jelasnya.