Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

Bayi Terpapar Konflik Rumah Tangga Rentan Terkena Stres, Benarkah?

esti setiyowati Senin, 19 Agustus 2024 - 18:00 WIB
Bayi Terpapar Konflik Rumah Tangga Rentan Terkena Stres, Benarkah?
ilustrasi
langit7-Jakarta,- - Beberapa kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) baru-baru ini viral di media sosial. Belum lama ini publik dikejutkan dengan berita kekerasan yang menimpa selebgram, Cut Intan Nabila yang dianiaya suaminya, Armor Toreador.

Melalui rekaman kamera CCTV, terlihat Armor menyiksa Cut Intan secara membabi buta. Bahkan di tengah amukannya pada Cut Nabila itu, Armor Toreador tak sengaja menendang bayi mereka yang baru berusia satu bulan.

Bukan baru kali ini saja kasus KDRT menyeret korban atau saksi anak-anak. Aksi kekerasan tentunya menimbulkan trauma tersendiri, terlebih bagi anak-anak.

Dokter spesialis anak, dr Kurniawan Satria Denta mengatakan kasus-kasus KDRT yang menempatkan anak-anak yang terlibat atau berada di tengah keributan membawa efek bagi otak dan mental si anak.

"Concern saya dari kasus tersebut, atau kasus-kasus KDRT lainnya yang kebetulan ada bayi yang terlibat atau berada di sekitar keributan tersebut, bukan lah hanya soal cedera atau trauma fisik semata, melainkan efeknya terhadap otak dan mental bayi tersebut," kata dr Denta dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (19/8/2024).

Berdasarkan penelitian, bayi sudah dapat merasakan stres ketika mendengar atau melihat orang tua bertengkar. Dr Denta menekankan, situasi ini bisa berdampak negatif pada perkembangan otak dan mental si bayi.

"Bayi yang sering terpapar konflik keluarga menunjukkan respons stres yang lebih tinggi, termasuk peningkatan aktivitas di bagian otak yang terkait dengan pengelolaan emosi dan stres," jelasnya.

Meski saat kekerasan terjadi si bayi tidak menunjukkan reaksi apapun, namun respons stres mereka bisa diperiksa dengan obyektif dari respons biologis tubuh. Misalnya jantung berdebar-debar, mual, atau sakit perut, dan sebagainya.

"Untuk melihat respons stres bayi, para peneliti menggunakan metode seperti memasang elektroda di dada bayi untuk mengukur variasi halus dalam detak jantung mereka, yang kemudian dapat memberikan gambaran tentang sistem saraf parasimpatis bayi—sistem yang membantu kita rileks dan pulih dari stres," lanjut dsa yang praktek di rumah sakit bilangan Jakarta Selatan ini.

Sayangnya, tambah dr Denta, penelitian menunjukkan bahwa bayi yang sering terpapar konflik keluarga menunjukkan pola variasi detak jantung yang mirip dengan mereka yang memiliki gangguan stres dan masalah emosional.

"Sistem saraf parasimpatis mereka tampak lebih sulit untuk menenangkan diri, yang bisa menyebabkan masalah perilaku, emosional, dan kesehatan di masa depan," tambahnya.

Penelitian dengan pemindaian otak bayi juga menunjukkan bahwa si kecil yang sering mendengar pertengkaran di rumah memiliki aktivitas otak yang berbeda dari bayi lainnya.

Bayi dari rumah tangga dengan konflik tinggi menunjukkan peningkatan aktivitas di bagian otak yang mengelola emosi dan stres, terutama ketika mendengar suara marah-marah.

"Efeknya ya kalo tidak dilakukan pencegahan lebih lanjut, akan terjadi hingga si bayi dewasa nanti, seperti yang saya bilang di atas, orang dewasa yang masa kecilnya dulu sering terpapar dengan pertengkaran atau emosi negatif orang tua, ketika dewasa akan jauh lebih sulit untuk mengelola emosi mereka dengan baik,"

"Gampangannya gini, orang tua yang berantem mulu pas anaknya masih bayi, ntar pas bayinya gede nanti, bakal kena mulu mental health-nya, gak mau kaan Indonesia Emas 2045 diganti jadi Indonesia Cemas?" lanjut dr Denta.

Lalu, bagaimana dengan bayi yang sempat terpapar konflik keluarga?

Menurut dr Denta, berdasarkan penelitian, efek stres pada bayi yang terpapar KDRT masih bisa diperbaiki. Sebab, otak bayi masih fleksibel.

Dr Denta menyarankan, kedua orang tua meminta maaf pada sang anak. Kemudian berikan sentuhan kasih sayang lebih sering untuk dapat membantu memulihkan efek stres pada bayi.

"Jangan lupa pengasuhan yang hangat, sensitif, dan responsif dapat melindungi bayi-bayi juga dari efek negatif lingkungan yang penuh stres," tutupnya.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
TOPIK TERPOPULER
Terpopuler 0 doa
4 snbt
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)