Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Air dalam Cangkir: Pelajaran tentang Stres, Karunia, dan Kehidupan dari Sebuah Dapur

miftah yusufpati Rabu, 09 Juli 2025 - 05:45 WIB
Air dalam Cangkir: Pelajaran tentang Stres, Karunia, dan Kehidupan dari Sebuah Dapur
Berhentilah mengejar cangkir. Nikmatilah air yang kalian punya. Ilustrasi: Piqsel
LANGIT7.ID-Suatu sore yang tampak biasa saja di sebuah kampus. Di ruang kerja yang dindingnya sudah menguning, seorang dosen menyambut beberapa mantan mahasiswanya yang kini telah menyebar di berbagai profesi. Obrolan mereka mula-mula ringan: pekerjaan, rumah, lalu bergeser ke topik yang tampak lebih berat — stres dan tekanan hidup.

Sang dosen hanya tersenyum, mendengarkan dengan sabar, lalu beranjak dari kursinya tanpa banyak komentar. Ia kembali dari dapur dengan sebuah nampan penuh cangkir — porselen yang mewah, kaca yang bening, plastik yang sederhana. Ia mengajak para mantan mahasiswanya mengambil cangkir dan menuang air untuk diri mereka sendiri.

Dan seperti yang sudah ia duga, para tamu itu tanpa sadar berebut mengambil cangkir yang paling indah: yang berukir, yang berkilau, yang tampak mahal. Barulah setelah semua duduk kembali, sang dosen meletakkan sisa cangkir di mejanya, lalu berkata pelan sambil tetap tersenyum:

"Jika kalian perhatikan, semua dari kalian memilih cangkir yang paling indah, dan mengabaikan yang sederhana. Padahal yang kalian butuhkan hanyalah airnya."

Para mantan mahasiswa itu terdiam, sebagian tersenyum kecut. Dosen itu melanjutkan, "Masalah terbesar kalian adalah cangkir, bukan airnya. Sama seperti dalam hidup: pekerjaan, uang, dan status sosial hanyalah cangkir. Mereka hanya wadah. Tapi kalian terlalu sibuk memilih wadah yang paling cantik, hingga lupa menikmati air yang sebenarnya kalian butuhkan."

Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali

Dalam tempo yang lambat namun dalam, ia menyisipkan pula firman Allah dari Surah Thaha (131):

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."

Sang dosen menyebut bahwa penyakit kita yang lain adalah terlalu cepat mengeluh, bahkan untuk hal-hal kecil, padahal penderitaan sesungguhnya mungkin baru terasa di akhirat kelak bila kita abai pada hakikat hidup. Ia mengutip lagi Surah Thaha (127):

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ ۚ وَلَعَذَابُ ٱلْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰ

"Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal."

Ia lalu mengingatkan bahwa dunia ini hanya perhiasan sementara. Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Qasas (60):

وَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَىْءٍ فَمَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?"

Baca juga: Ekstase, Luka, dan Sunyi Para Pencinta Ajaran Imam Al-Ghazali

Dan ujung dari segala ini, katanya, adalah melupakan bahwa akhiratlah rumah sebenarnya:

وَٱلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Surah Al-A’la: 17)

Di akhir percakapan itu, suasana menjadi jauh lebih tenang. Tak ada lagi tawa keras atau keluhan panjang. Hanya diam yang dalam — semacam perenungan yang jarang hadir di kantor-kantor penuh deadline atau di meja-meja rapat.

Sang dosen tersenyum lagi dan berkata, "Berhentilah mengejar cangkir. Nikmatilah air yang kalian punya. Hidup ini adalah investasi untuk akhirat. Dan sebaik-baik investasi adalah jika kita bisa menyalurkan karunia kita untuk meringankan penderitaan orang lain."

Ia mengakhiri dengan mengingat kembali percakapan Sayyidina ʿAlī ibn Abī Ṭālib, ketika ditanya apakah lebih memilih hidup atau mati. Jawaban seorang laki-laki membuatnya tertegun: "Aku memilih hidup, karena hanya di sinilah aku bisa mencari ridha Tuhanku."

Di luar ruangan, senja sudah turun. Dan mungkin, beberapa dari mereka yang keluar dari pintu itu tak lagi melihat hidup sekadar perlombaan cangkir, melainkan tentang air yang memberi kehidupan.

Baca juga: Bukan Seruling Setan: Membaca Ulang Musik dan Tarian dalam Laku Sufi Imam Al-Ghazali

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
TOPIK TERPOPULER
Terpopuler 0 doa
4 snbt
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)